JAKARTA - Ledakan pengembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini tak bisa dipisahkan dari kebutuhan infrastruktur data center yang kian masif. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah gelombang yang memunculkan 'peluang' ekonomi baru yang menggiurkan, terutama bagi negara-negara berkembang. Permintaan data center AI melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, membuat raksasa teknologi dunia berlomba-lomba menggelontorkan investasi miliaran dolar AS untuk membangun pusat data canggih, tak terkecuali di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia.
Citigroup memproyeksikan belanja infrastruktur AI global akan mencapai angka fantastis, yaitu US$2, 8 triliun atau setara Rp 46.500 triliun pada tahun 2029, sebuah kenaikan signifikan dari estimasi sebelumnya. Angka ini menegaskan betapa data center ibarat 'harta karun' baru yang kini menjadi rebutan dunia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), turut menyoroti tren global ini. Beliau menekankan pentingnya adaptasi dan pemahaman mendalam mengenai manfaat serta konsekuensi dari perkembangan AI.
"Data center tumbuh di mana-mana, harus makin canggih dan AI ready. Kita sekarang bicara AI. Kita tak bisa lagi lihat ke belakang, maka harus makin adaptif dan menghadirkan pemahaman yang utuh terkait apa yang menjadi benefit dan konsekuensi, " ujar AHY dalam pemaparannya di acara FEKDI dan IFSE 2025, Kamis (30/10/2025).
AHY melihat potensi besar bagi Indonesia untuk membangun data center di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), yang perlu dikelola dan diamankan dengan optimal. Ia berharap AI dapat mendorong ekonomi menjadi tidak hanya serba digital, tetapi juga lebih cerdas dan mempermudah kehidupan.
Namun, pembangunan data center AI yang kokoh memerlukan pasokan listrik dan air yang melimpah. AHY menegaskan pentingnya ketersediaan sumber daya ini untuk sistem yang berkelanjutan. Selain itu, infrastruktur logistik yang terhubung dengan baik juga menjadi kunci.
"Membangun infrastruktur fisik [di Indonesia] tak sama dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, India, dsb. Indonesia adalah negara kepulauan. Selain jalan di darat yang makin baik, transportasi antar-pulau dan penerbangan harus makin bagus. Kami di Kemenko Infra-Kewilayahan setiap hari melakukan sinkronisasi, " jelas AHY.
Lebih lanjut, AHY mengingatkan pentingnya aspek keamanan siber dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital yang terus berkembang pesat. Perlindungan data dan privasi masyarakat menjadi prioritas utama di tengah maraknya serangan siber.
"Cyber attack ini terjadi dan kita harus lindungi keamanan data, termasuk privacy dari masyarakat kita, " tegasnya.
Dengan populasi yang besar, usia produktif yang melimpah, serta kelas menengah yang terus bertumbuh, AHY optimis Indonesia dapat menjadi pemain ekonomi digital terbesar dan terkuat di kancah regional Asia Tenggara, bahkan hingga skala Asia dan dunia. Harapannya, masyarakat tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga benar-benar berkontribusi aktif dalam ruang digital, termasuk dalam aktivitas ekonomi. (PERS)

Updates.