OPINI - Setiap tanggal 10 November, ingatan kita kembali tersedot pada gemuruh pertempuran heroik di Surabaya. Suara bambu runcing beradu dengan peluru, semangat membara mengusir penjajah. Namun, ketika mentari 10 November 2025 nanti terbit, apakah makna kepahlawanan itu masih sama? Di tengah lautan informasi digital yang tak bertepi, di mana satu klik bisa menyebarkan kebenaran atau kebohongan dalam hitungan detik, saya bertanya-tanya: siapa pahlawan sesungguhnya bagi bangsa ini?
Dulu, pahlawan adalah mereka yang mengangkat senjata. Sekarang, di zaman di mana narasi bisa dibentuk dan dihancurkan melalui gawai di genggaman, pahlawan sejati mungkin adalah mereka yang mampu menyaring informasi, yang tak latah menyebarkan hoaks, yang berani melawan arus disinformasi dengan fakta. Saya teringat percakapan dengan seorang guru muda yang berjuang keras mengajarkan literasi digital kepada murid-muridnya. Ia berkata, “Rasanya seperti melawan monster tak terlihat, Nak. Anak-anak kita terpapar begitu banyak hal, dan tanpa filter yang kuat, mereka bisa tersesat.” Pengalaman itu membekas, betapa beratnya perjuangan sang pendidik ini, yang tak kalah heroiknya dengan pejuang di medan perang.
Perjuangan di era digital ini menuntut keberanian yang berbeda. Bukan keberanian mengangkat senjata, melainkan keberanian berpikir kritis, keberanian berkata benar di tengah kebisingan, dan keberanian membangun ruang digital yang sehat. Saya seringkali merasa prihatin melihat bagaimana informasi yang salah atau ujaran kebencian bisa begitu cepat menyebar, mengikis rasa persatuan dan kebangsaan yang telah susah payah dibangun para pahlawan kita. Bukankah ini adalah medan perang baru yang membutuhkan pejuang-pejuang baru?
Bayangkan saja, generasi muda kita yang akrab dengan media sosial, seringkali menjadi sasaran empuk dari konten-konten provokatif dan berita palsu. Mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan kemajuan bangsa, justru bisa terjerumus dalam pusaran kebencian dan informasi menyesatkan. Ini adalah ancaman nyata yang menggerogoti fondasi bangsa dari dalam. Maka, pahlawan masa kini adalah mereka yang mampu menjadi benteng pertahanan diri dan orang lain dari serangan informasi berbahaya tersebut.
Kita perlu merumuskan ulang definisi kepahlawanan. Pahlawan 10 November 2025 bukanlah sekadar patung-patung yang berdiri tegak, melainkan individu-individu yang aktif berkontribusi dalam menjaga keutuhan informasi dan moral bangsa di dunia maya. Mereka adalah para jurnalis yang teguh pada prinsip kebenaran, para pendidik yang gigih mencerdaskan, para aktivis yang menyuarakan kebaikan, dan setiap warga negara yang sadar akan tanggung jawabnya dalam menyebarkan informasi yang positif dan membangun.
Saya sendiri merasakan bagaimana sulitnya memilah berita yang valid di tengah gempuran informasi yang tak henti. Kadang, saya harus membaca ulang beberapa kali, membandingkan dengan sumber lain, hanya untuk memastikan kebenarannya. Pengalaman pribadi ini mengajarkan saya bahwa perjuangan melawan kebohongan digital itu nyata dan membutuhkan kesabaran ekstra.
Hari Pahlawan pada 10 November 2025 ini harus menjadi momen introspeksi mendalam. Apakah kita sudah cukup berjuang untuk kemerdekaan informasi? Apakah kita sudah cukup bijak dalam menggunakan media digital? Mari kita jadikan momen ini sebagai momentum untuk mengobarkan semangat kepahlawanan digital, demi Indonesia yang lebih cerdas, kuat, dan beradab di era informasi yang terus berkembang.
Jakarta, 10 November 2025
Dr. Ir. Hendri, ST., MT (Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia)

Updates.