Rahmad Pribadi: Pupuk Indonesia Prioritaskan Kebutuhan Domestik

    Rahmad Pribadi: Pupuk Indonesia Prioritaskan Kebutuhan Domestik
    Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi

    JAKARTA - Dalam menghadapi dinamika pasar global yang bergejolak, PT Pupuk Indonesia (Persero) menempatkan prioritas utamanya pada pemenuhan kebutuhan pupuk urea di dalam negeri sebelum melangkah ke pasar ekspor. Langkah ini diambil demi memastikan ketersediaan dan stabilitas pasokan bagi sektor pertanian nasional yang krusial.

    "Yang penting Indonesia aman dulu, baru ekspor, " tegas Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, di Jakarta, Kamis (1/4/2026), usai mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

    Rahmad menjelaskan, kondisi saat ini memungkinkan Indonesia untuk tetap mengekspor pupuk urea, bahkan turut membantu negara-negara tetangga yang mengalami keterbatasan pasokan. Situasi ini diperparah dengan penutupan Selat Hormuz akibat gejolak di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global.

    Meskipun negara tujuan ekspor pupuk urea Indonesia selama ini mencakup Australia, India, dan sejumlah negara lain di kawasan, Rahmad menekankan bahwa kepentingan dalam negeri selalu menjadi yang terdepan dalam setiap keputusan ekspor.

    Dengan kapasitas produksi urea nasional yang mencapai 8, 8 juta ton secara operasional dari total kapasitas terpasang 9, 4 juta ton, Indonesia dinilai mampu menjawab tantangan ini. Kenaikan tajam harga urea global dari sekitar 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton tidak serta-merta mengancam pasokan domestik, karena sebagian besar kebutuhan telah terpenuhi dari produksi dalam negeri.

    Mengenai kuota ekspor, Pupuk Indonesia menyebutkan angka berkisar 1, 5 juta ton, namun penyaluran tetap mengedepankan fleksibilitas sesuai dengan kondisi pasokan di dalam negeri.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono juga mengemukakan bahwa sejumlah negara kini melirik Indonesia sebagai sumber pupuk. Krisis geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu suplai urea dunia, membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemasok.

    "Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar, " ujar Wamentan seusai membuka Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (1/4/2026).

    Wamentan merinci, enam negara yang berminat mengimpor pupuk dari Indonesia antara lain India, Brasil, Australia, dan Filipina. Konflik di Timur Tengah secara signifikan berdampak pada jalur perdagangan global di Selat Hormuz, yang merupakan rute vital bagi sekitar 30 persen pasokan pupuk dunia.

    Akibatnya, harga pupuk urea melonjak signifikan. Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (1/4/2026) pukul 13.00 WITA, harga urea per ton mencapai 690 dolar AS, sebuah peningkatan drastis dari kisaran 350-380 dolar AS pada awal Januari 2026.

    Sudaryono menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk berperan sebagai stabilisator pasokan pupuk dunia di tengah ketidakpastian global ini, terutama setelah pemerintah memastikan bahwa kebutuhan pupuk untuk pertanian domestik telah tercukupi sepenuhnya. (PERS) 

    pupuk indonesia ekspor urea pertanian nasional stabilitas pasokan geopolitik harga pupuk rahmad pribadi
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Iran Tegaskan Hormuz Terbuka untuk Sekutu,...

    Artikel Berikutnya

    Austria Tolak AS Gunakan Wilayah Udaranya...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Sebagai Usaha Menjaga Situasi Kamtibmas Selalu Aman dan Kondusif, Bhabinkamtibmas Polsek Karangnunggal Sambang ke Desa Binaan
    Patroli Malam Blue Light Polsek Salopa Tingkatkan Keamanan Wilayah
    Saka Energi Pecahkan Rekor Bor Terpanjang, Tingkatkan Produksi Migas Jawa Timur
    Babinsa Desa Rejosari Aktif Dampingi Pembangunan KDKMP
    Jumat Curhat di Dauhwaru, Kapolres Jembrana Gandeng Pecalang Jaga Kamtibmas dan Antisipasi Gangguan

    Ikuti Kami