JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia dan Organisasi Kerja Sama Hutan Asia (AFoCo) sepakat menjalin sinergi strategis yang lebih erat di sektor kehutanan. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan proyek karbon yang inovatif, upaya rehabilitasi lahan kritis, serta pemberdayaan masyarakat melalui skema perhutanan sosial yang berkelanjutan.
Langkah kolaboratif ini merupakan bagian dari diplomasi hijau yang digagas dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Republik Korea Selatan. "Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam memperkuat kerja sama strategis di sektor kehutanan, termasuk dengan organisasi internasional yang berpusat di Korea, " ujar Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Jakarta, Kamis (02/04/2026).
Kesepakatan penguatan kerja sama ini secara resmi ditandai melalui pertemuan yang produktif antara Menhut Raja Juli Antoni dan Direktur Eksekutif AFoCo, Park Chongho, di Seoul, Korea Selatan. AFoCo menyambut baik peran aktif Indonesia sebagai anggota sejak tahun 2019, yang dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan profil kehutanan Indonesia di kancah regional.
“Indonesia telah menjadi sarana yang efektif untuk mengampanyekan pembangunan kehutanan berkelanjutan, ” tambah Direktur Park, seraya menekankan besarnya potensi kerja sama ke depan. Ia secara khusus menyoroti peluang pengembangan proyek karbon di Indonesia, mencakup kawasan perhutanan sosial, taman nasional, hingga area konsesi yang membutuhkan dukungan dalam penyiapan proyek dan sertifikasi karbon.
Lebih lanjut, AFoCO tengah merancang skema pendanaan campuran atau blended finance yang akan mendukung kegiatan penanaman kembali lahan terdegradasi, yang nantinya dapat diklaim sebagai proyek karbon. AFoCO juga telah memperoleh status sebagai entitas terakreditasi di Green Climate Fund, membuka pintu lebar bagi Indonesia untuk mengakses pendanaan internasional guna pengembangan proyek kehutanan berkelanjutan.
Tak hanya itu, AFoCO kini mendapatkan dukungan pendanaan dari Rabobank untuk pengembangan proyek agroforestry carbon di kawasan Asia Pasifik. Inisiatif ini diharapkan dapat direplikasi dan memberikan manfaat signifikan di Indonesia.
Menhut Raja Antoni menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berkontribusi aktif dalam pengembangan AFoCo, sejalan dengan status Indonesia sebagai negara dengan hutan tropis terluas di Asia. “Kemenhut berkomitmen memperkuat kerja sama dengan AFoCO demi mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, termasuk pengembangan proyek karbon yang membawa keuntungan ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat, ” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kemenhut mengusulkan penguatan kelembagaan dengan menempatkan Utusan Tetap dari Kemenhut di kantor pusat AFoCO. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas koordinasi dan komunikasi antar lembaga. Selain itu, Kemenhut juga mengundang AFoCO untuk turut mendukung pengelolaan Hutan Adat seluas 1, 4 juta hektare yang ditargetkan dalam lima tahun ke depan.
Dukungan AFoCO sangat diharapkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat pemegang izin perhutanan sosial, khususnya dalam mengatasi tantangan akses pendanaan awal dan mendapatkan pendampingan teknis dalam menyusun program kegiatan yang efektif. (PERS)

Updates.