Abdullah Rasyid: Memanusiakan Narapidana, Menagih Asta Cita di Balik Tembok Penjara

    Abdullah Rasyid: Memanusiakan Narapidana, Menagih Asta Cita di Balik Tembok Penjara
    Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN dan taf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan

    OPINI - Ada satu asumsi usang yang diam-diam masih menghuni sistem pemasyarakatan kita: bahwa hukuman adalah tujuan akhir. Kita sering merasa tugas negara tuntas hanya dengan mengurung seseorang di balik tembok tinggi, lalu membiarkan sisanya pada nasib dan waktu. Padahal, asumsi ini tidak hanya keliru, tapi juga mahal secara sosial dan ekonomi. 

    Setiap narapidana yang bebas tanpa perubahan mental dan keahlian hanyalah masalah sosial yang tertunda.

    Jurang Konsep dan Realita

    Secara filosofis, sistem pemasyarakatan modern kita bertujuan membina dan merehabilitasi, bukan sekadar menghukum atau mengisolasi. Namun, antara konsep dan praktik di lapangan, terdapat jurang yang lebar. Pembinaan sering kali terjebak pada formalitas. Program pelatihan ada, namun kerap tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Pembinaan mental pun seringkali hanya bersifat seremonial tanpa sentuhan psikologis yang mendalam.

    Akibatnya fatal: residivisme

    Tanpa perubahan cara berpikir dan bekal kemampuan, penjara justru berubah menjadi "sekolah kejahatan" di mana narapidana memperluas jaringan dan mematangkan kapasitas kriminal mereka.

    Menyelaraskan dengan Asta Cita

    Visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menekankan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) dan reformasi hukum. Jika kita serius ingin mencapai kemandirian ekonomi dan keadilan sosial, maka reformasi lapas tidak boleh lagi menjadi prioritas kelas dua. Transformasi penjara dari tempat penghukuman menjadi tempat pemulihan adalah kunci untuk mengurangi beban negara akibat kriminalitas yang berulang.

    Kita bisa belajar dari negara-negara lain yang telah berhasil memutus rantai kriminalitas:

     Norway: Fokus pada restorative justice dan hubungan manusiawi antara petugas dan narapidana, menghasilkan tingkat residivisme terendah di dunia.

     Jerman dan Jepang: Mengintegrasikan lapas dengan dunia industri sehingga narapidana memiliki etos kerja dan keterampilan teknis yang bernilai ekonomi tinggi.

    Belanda: Membangun sistem reintegrasi yang melibatkan masyarakat dan sektor swasta, sehingga mantan narapidana memiliki akses rumah dan pekerjaan.

    Langkah Transformasi

    Untuk mewujudkan model pemasyarakatan yang manusiawi dan produktif sesuai semangat Asta Cita, beberapa langkah fundamental tidak bisa ditawar lagi:

     1. Reformasi Mental Psikologis: Mengganti ceramah rutin dengan pendekatan psikologi modern yang menyentuh kesadaran diri dan makna hidup.

     2. Link and Match Industri: Pelatihan keterampilan di lapas harus berbasis kebutuhan pasar lokal dan bekerja sama langsung dengan sektor industri agar narapidana bisa langsung terserap kerja saat bebas.

     3. Hapus Stigma dan Reintegrasi: Masyarakat harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi. Stigma adalah "tembok kedua" yang lebih tinggi dari penjara. Tanpa penerimaan masyarakat, semua pembinaan di dalam lapas akan sia-sia.

     4. Perubahan Paradigma Petugas: Petugas pemasyarakatan harus bertransformasi dari sekadar "penjaga" menjadi "fasilitator perubahan".

    Hambatan klasik seperti overkapasitas dan budaya birokrasi yang kaku memang nyata. Namun, keberhasilan sebuah lembaga pemasyarakatan tidak boleh lagi diukur dari seberapa kuat temboknya, melainkan dari seberapa banyak manusia yang berhasil dikembalikan menjadi manusia yang utuh.

    Negara diuji bukan dalam kemampuannya menghukum, tetapi dalam kemampuannya memperbaiki. 

    Inilah saatnya membuktikan bahwa Asta Cita juga hadir menerangi ruang-ruang gelap di balik jeruji besi.

    Jakarta, 19 April 2026

    Abdullah Rasyid

    *Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

    *Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan

    abdullah rasyid
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Maruarar Sirait: Huntara Senen, Solusi Hunian...

    Artikel Berikutnya

    Sukses, Kemah SiliwangiSantri Camp (SSC)...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Sinergi Bhabinkamtibmas Dan Warga Dalam Gotong Royong Pembangunan Jalan Desa Di Bunikasih
    Satgas Yonif 631/Antang: Kebersamaan Rohani dan Kesehatan di Intan Jaya
    Wujudkan Pembinaan Spiritual Rutan Balikpapan Gelar  Ibadah Minggu
    Sukses, Kemah SiliwangiSantri Camp (SSC) Jabar-Banten 2026 Berjalan Lancar
    Hangatnya Kebersamaan di Belemu, Satgas Yonif 753/AVT Berbagi Sembako dan Harapan

    Ikuti Kami