TEHRAN - Ketegangan di Timur Tengah meroket tajam setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran empat rudal jarak jauh jenis Ghadr yang diarahkan pada kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Langkah provokatif ini, sebagaimana dilaporkan oleh Press TV mengutip pernyataan resmi IRGC, merupakan respons langsung terhadap dugaan operasi militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Lebih lanjut, IRGC dilaporkan tidak berhenti di situ. Serangan rudal balistik juga dilaporkan menyasar pertemuan rahasia para teknisi penerbangan dan pilot pesawat tempur Amerika Serikat yang berlokasi di dekat salah satu pangkalan militer di Uni Emirat Arab (UEA). Peristiwa ini terjadi pada Kamis (2/4/2026), menambah daftar panjang aksi balasan Iran.
Dalam manuver militer yang semakin intens, sistem pertahanan udara IRGC juga diklaim berhasil menembak jatuh sebuah 'jet tempur utama musuh'. Serpihan pesawat tersebut dilaporkan jatuh di perairan antara Pulau Qeshm dan Hengam, yang terletak strategis di Teluk Persia. Insiden ini semakin memperkeruh suasana regional.
Serangan balasan Iran ini datang sebagai buntut dari operasi militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada tanggal 28 Februari lalu. Operasi tersebut dilaporkan telah menimbulkan kerugian besar bagi Iran, termasuk gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah petinggi militer Iran. Tak hanya itu, sebuah sekolah perempuan di Iran selatan juga dilaporkan hancur lebur akibat hantaman rudal.
Iran memperkirakan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan gabungan AS-Israel tersebut mencapai lebih dari 1.200 jiwa. Angka yang sangat mengerikan ini menambah dimensi kemanusiaan yang tragis dalam konflik yang semakin memanas ini. (PERS)

Updates.