JAKARTA - Di tengah gejolak global yang terus mengusik stabilitas pasokan dan harga energi dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, Indonesia didorong untuk segera mengukuhkan kemandirian energinya. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyoroti dua pilar strategis dalam upaya ini: elektrifikasi kendaraan dan penggunaan kompor listrik.
“Kondisi saat ini, menjadi pengingat bagi Indonesia untuk segera memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik, terutama ketenagalistrikan di tengah risiko stabilitas pasokan dan harga energi dunia, ” ujar Sugeng Suparwoto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (03/04/2026).
Langkah elektrifikasi kendaraan dipandang sebagai strategi jitu untuk mengalihkan ketergantungan sektor transportasi dari bahan bakar fosil ke tenaga listrik. Dengan semakin banyaknya kendaraan listrik beroperasi, konsumsi energi nasional diharapkan dapat lebih kuat bertumpu pada sistem kelistrikan dalam negeri, yang notabene bersumber dari potensi domestik.
Data terkini menunjukkan betapa besarnya beban subsidi energi yang ditanggung negara. Angkanya melonjak dari Rp95, 7 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp159, 6 triliun di tahun 2023, dan diproyeksikan mencapai Rp203, 4 triliun pada tahun 2024. Lonjakan ini didominasi oleh subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Situasi ini diperkirakan akan terus berlanjut, dengan anggaran subsidi yang mencapai Rp394, 3 triliun pada 2025 dan Rp210, 06 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, dengan porsi terbesar masih untuk BBM dan LPG.
Tak hanya di sektor transportasi, Sugeng juga mengajak rumah tangga untuk beralih ke kompor listrik. “Penggunaan kompor listrik dapat menjadi alternatif yang lebih efisien sekaligus memanfaatkan jaringan listrik yang telah tersedia luas di berbagai daerah, ” jelasnya.
Ia menegaskan, kedua inisiatif ini bukan sekadar langkah transisi menuju energi yang lebih bersih, melainkan juga benteng pertahanan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global yang kian nyata. Peningkatan konsumsi listrik domestik secara produktif akan memperkuat fondasi sistem energi nasional, menjadikannya lebih tangguh terhadap tekanan eksternal.
Namun, keberhasilan implementasi kebijakan ini sangat bergantung pada kesiapan regulasi yang matang. Sugeng menekankan pentingnya dukungan regulasi yang memadai agar elektrifikasi kendaraan dan kompor listrik dapat berjalan efektif tanpa membebani masyarakat. Dengan demikian, transisi energi dapat terlaksana secara bertahap, memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional. (PERS)

Updates.