OPINI - Gelar profesor bukanlah sekadar hiasan di depan nama atau simbol puncak karier seorang akademisi. Di balik jubah kebesaran dan seremoni pengukuhan yang khidmat, tersemat tanggung jawab moral yang mahabesar. Seorang profesor sejatinya adalah mercusuar; ia harus menjadi sumber cahaya yang dampaknya menyentuh tiga pilar utama: dunia pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan masyarakat luas.
Di dunia pendidikan, seorang profesor adalah penjaga gawang kualitas intelektual. Ia tidak boleh hanya asyik dengan dunianya sendiri atau terjebak dalam menara gading birokrasi kampus. Dampak nyata seorang profesor terlihat dari bagaimana ia membimbing mahasiswa, menanamkan nalar kritis, dan melahirkan generasi pemikir baru yang melampaui dirinya sendiri. Ia harus menjadi inspirasi yang menghidupkan gairah belajar, bukan sekadar penguji yang menakutkan di ruang sidang.
Dalam ranah ilmu pengetahuan, profesor memiliki mandat untuk terus mendobrak batas-batas ketidaktahuan. Ilmu pengetahuan bersifat dinamis, dan seorang profesor adalah mesin penggeraknya melalui riset dan inovasi. Namun, karya ilmiah yang dihasilkan jangan hanya berakhir sebagai tumpukan kertas di perpustakaan atau sekadar memenuhi syarat angka kredit untuk kenaikan pangkat. Riset tersebut harus memiliki integritas, menawarkan solusi orisinal, dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Bagi masyarakat, keberadaan seorang profesor harus benar-benar dirasakan manfaatnya. Ilmu pengetahuan akan kehilangan maknanya jika tidak mampu memanusiakan manusia atau memberikan solusi atas persoalan sosial yang ada. Apakah itu dalam bentuk kebijakan publik yang berbasis data, teknologi tepat guna untuk petani di desa, atau pencerahan pemikiran di tengah arus disinformasi, profesor harus hadir sebagai rujukan yang kredibel. Ia adalah penyambung lidah antara teori yang rumit dan realitas yang sulit di lapangan.
Sangat disayangkan jika kehormatan gelar profesor justru tereduksi menjadi sekadar ambisi mengejar prestise atau jabatan administratif. Lebih menyedihkan lagi jika demi gelar tersebut, integritas akademik digadaikan melalui praktik-praktik instan seperti plagiarisme atau manipulasi karya ilmiah.
Pada akhirnya, martabat seorang profesor tidak diukur dari seberapa panjang daftar riwayat hidupnya atau seberapa sering ia diundang ke forum-forum formal. Martabat itu diukur dari seberapa besar perubahan positif yang ia bawa bagi peradaban. Seorang profesor harus menjadi bukti hidup bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya untuk dipelajari, melainkan untuk diamalkan demi kemajuan kemanusiaan.
JAKARTA, 17 Januari 2026
Dr. Ir. Hendri, ST., MT
Akademisi/ Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia

Updates.