JAKARTA - Langkah strategis Kementerian Pertahanan dalam mengakuisisi kapal induk menuai apresiasi dari Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Dr. TB. Ace Hasan Syadzili. Ia menilai keputusan ini sangat vital demi menjaga bentangan laut Indonesia yang luar biasa luas.
"Saya kira ini sesuatu yang memang dibutuhkan oleh negara kita dalam rangka menjaga luas laut kita yang luar biasa, " ujar Ace Hasan dalam konferensi pers di kantor Lemhannas, Jakarta Pusat, Selasa (13/01/2026).
Ace Hasan menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terpanjang di dunia dari Sabang hingga Merauke, memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi setiap jengkal wilayah maritimnya. Potensi kekayaan alam hingga pilar ekonomi yang tersimpan di laut mengharuskan adanya penguatan sistem senjata utama (alutsista), khususnya dalam menjaga kawasan laut.
Pembelian kapal induk, menurutnya, menjadi opsi yang tepat untuk memperkuat kedaulatan maritim bangsa.
"Walaupun harus dilihat juga misalnya soal kemampuan fiskal dan lain sebagainya. Tapi saya kira memperkuat kekuatan laut kita melalui peralatan canggih termasuk memiliki kapal induk, saya kira kenapa tidak, " jelasnya.
Senada, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama (Laksma) TNI Tunggul, mengungkapkan bahwa kehadiran kapal induk Giuseppe Garibaldi akan difokuskan untuk misi Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
"Kapal Induk tersebut akan digunakan dalam pelaksanaan OMSP, " tegas Tunggul kepada ANTARA di Jakarta.
OMSP sendiri mencakup berbagai misi kemanusiaan, mulai dari evakuasi warga saat bencana alam atau kecelakaan berskala besar, hingga pengiriman pasukan perdamaian ke zona konflik. Kapal induk dinilai sangat cocok untuk tugas ini berkat kapasitasnya yang besar dalam mengangkut logistik, daya jelajah tinggi, dan fasilitas pendukung yang mumpuni.
Meskipun fokus awal adalah OMSP, Tunggul tidak menampik kemungkinan kapal tersebut nantinya juga dapat dialihfungsikan untuk operasi perang.
TNI AL saat ini tengah berupaya menyelesaikan proses akuisisi kapal induk tersebut dari Angkatan Laut Italia. Namun, detail mengenai tahapan akuisisi dan estimasi biaya yang dikeluarkan Kementerian Pertahanan masih belum diungkapkan secara rinci.
Menariknya, kapal induk yang sedang diincar ini memiliki kesamaan dengan dua kapal perang baru TNI AL, yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yang juga diproduksi oleh perusahaan asal Italia, Fincantieri. Kapal induk ini memiliki panjang 180, 2 meter, mampu melaju dengan kecepatan 30 knot atau 56 kilometer per jam berkat mesin penggerak supernya. Fasilitasnya pun canggih, dilengkapi radar jamming, peluncur rudal antipesawat Sea Sparrow / Selenia Aspide, meriam Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, tabung torpedo 324 mm, dan rudal Otomat Mk 2 SSM. (PERS)

Updates.