SURABAYA, Jawa Timur - Potensi sektor jasa keuangan untuk menggandakan geliat ekonomi daerah hingga nasional sangatlah besar. Kunci utamanya terletak pada peningkatan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat, demikian ditegaskan oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar.
“Sektor jasa keuangan ini sebenarnya memiliki potensi yang mampu melipatgandakan apa yang ada di masing-masing daerah, wilayah, bahkan nasional, ” ujar Mahendra dalam keterangannya di Surabaya, Minggu (26/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa membaiknya tingkat literasi dan inklusi keuangan berarti masyarakat semakin cerdas dan aktif memanfaatkan berbagai produk serta layanan jasa keuangan. Hal ini, menurutnya, akan membuka jalan bagi sektor ini untuk benar-benar berperan sebagai lokomotif pertumbuhan.
Bayangkan saja, jika seluruh aset perusahaan di sektor jasa keuangan disatukan, nilainya bisa mencapai sekitar 145 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini, menurut Mahendra, jauh melampaui besaran ekonomi nasional kita, bahkan di negara lain seringkali mencapai tiga hingga empat kali lipat PDB.
Namun, potensi luar biasa ini baru benar-benar bisa terwujud jika masyarakat tidak hanya sekadar paham, tetapi juga giat menggunakan produk jasa keuangan. Rekening bank, misalnya, tak lagi hanya untuk menyimpan uang, tetapi juga untuk berbagai aktivitas produktif yang menggerakkan roda ekonomi.
Aktivitas yang dimaksud mencakup investasi cerdas di pasar modal, termasuk saham dan obligasi, serta pemanfaatan asuransi untuk perlindungan dan pembiayaan guna mewujudkan kebutuhan seperti pembelian kendaraan atau penguatan jaminan.
Saat ini, data menunjukkan tingkat literasi keuangan telah mencapai 66, 46 persen dengan inklusi keuangan di angka 80, 50 persen. Pemerintah menargetkan inklusi keuangan bisa menembus 98 persen pada tahun 2045, sebuah lompatan besar yang diharapkan Mahendra.
“Ini yang akan melipatgandakan suatu perekonomian berkali-kali lebih besar daripada PDRB-nya. Jadi kami harapkan dengan literasi dan inklusi yang besar menjadi modal dasar kita, kita sekarang bergerak kepada pemanfaatan utilisasinya yang lebih tinggi lagi, ” harap Mahendra. (PERS)

Updates.