POLITISI - Kisah seorang dokter yang memilih jalan hidup mengabdi pada masyarakat, tak sekadar menyembuhkan penyakit fisik, namun juga merawat luka sosial dan memupuk harapan. Beliau adalah Sofyan Tan, yang memiliki nama Tionghoa Chen Jin Yang atau Tan Kim Yang, lahir pada 25 September 1959. Lebih dari sekadar profesi medis, Sofyan Tan telah mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan dan pengembangan masyarakat di tanah kelahirannya, Sumatera Utara.
Perjalanan hidupnya semakin diperkaya pada 7 Maret 2010, ketika ia dianugerahi marga Ginting oleh para tetua adat dan tokoh masyarakat Karo di Jambur Namaken, Medan. Pemberian gelar ini menjadikannya Sofyan Tan Ginting, sebuah simbol akulturasi dan penerimaan yang mendalam dalam masyarakat.
Latar belakang pendidikannya yang kuat dimulai dari bangku sekolah di Medan, mulai dari SD Jaya Lama (1971), SMP Jaya Lama (1974), hingga SMA Sutomo (1977). Puncak pendidikan akademisnya diraih melalui Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia, Medan, di mana ia lulus sebagai Dokter Umum pada tahun 1990.
Namun, Sofyan Tan tidak berhenti pada profesi dokter. Ia merambah dunia pendidikan dan organisasi dengan penuh semangat. Kariernya mencakup peran sebagai Wakil Kepala Laboratorium Biologi SMA Sutomo (1980-1986), Asisten Dosen Lab Fisiologi FK-UMI Medan (1981-1985), hingga Guru Biologi di berbagai institusi pendidikan. Pengabdiannya di dunia pendidikan semakin mengemuka ketika ia mendirikan Yayasan Perguruan Brigjend Katamso Sunggal (1984-1988) dan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (1987-sekarang).
Di bawah kepemimpinannya, Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak kurang mampu. Didirikan di Sunggal pada tahun 1987, YPSIM mengusung misi mulia: mengembangkan pendidikan berbasis pembauran. Di sekolah ini, perbedaan suku, agama, maupun etnis lebur menjadi satu. Anak-anak dari latar belakang Tionghoa, Melayu, Batak, India, Tamil, dan lainnya belajar bersama dalam semangat persatuan.
Sofyan Tan tak gentar menghadapi tantangan finansial untuk mewujudkan mimpinya. Ia merintis program orang tua asuh dengan sistem bersilang yang unik. Murid Melayu dibantu oleh orang tua asuh Tionghoa, murid India didukung orang tua asuh Batak, dan seterusnya. Dukungan ini datang tidak hanya dari Sumatera Utara, tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia bahkan hingga Amerika Serikat.
Sekolah yang dirintisnya dengan penuh cinta ini tumbuh pesat. Dimulai dengan 187 siswa pada tahun 1987, sepuluh tahun kemudian YPSIM telah menampung 1.362 siswa, bahkan menarik minat siswa dari Jakarta.
Perjuangan dan visi Sofyan Tan tak hanya berhenti di situ. Ia juga aktif memimpin Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) yang berkedudukan di Medan, menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Namanya semakin dikenal publik ketika ia menjadi salah satu dari 172 etnis Tionghoa Indonesia yang dinominasikan sebagai calon anggota legislatif atau DPD pada tahun 2004, serta menjabat sebagai Ketua Presidium Forum Nasional Usaha Kecil dan Menengah (Fornas UKM).
Pada Pilkada Medan 2010, Sofyan Tan bersama Nelly Armayanti maju sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan. Pasangan yang diusung PDIP dan PDS ini meraih dukungan signifikan, membuktikan resonansi visi mereka di mata masyarakat.
Puncaknya, pada Pemilu Legislatif 2014, Sofyan Tan berhasil menembus Senayan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara I, meraup lebih dari 113.000 suara. Kepercayaan publik ini kembali ia raih pada Pemilu 2019 dan 2024, menunjukkan konsistensinya dalam mengabdi dan memperjuangkan aspirasi rakyat.
Perjalanan Sofyan Tan adalah bukti nyata bahwa kepedulian, visi, dan kerja keras dapat menciptakan perubahan besar. Dari seorang dokter yang tergerak hatinya, ia menjelma menjadi penggerak masyarakat, pendidik visioner, dan politisi yang berjuang untuk kemajuan. (PERS)

Updates.