POLITISI - Di usianya yang masih terbilang muda, Athari Gauthi Ardi telah mengukir jejak signifikan di kancah politik Indonesia. Lahir pada 15 April 1992 di Kota Padang, Sumatera Barat, ia kini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) selama dua periode sejak 2019, mewakili Partai Amanat Nasional (PAN). Lebih dari sekadar politikus, Athari juga aktif sebagai Wakil Ketua Umum Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPILIDI) Muda sejak 2018, menunjukkan komitmennya pada pemberdayaan perempuan.
Perjalanan Athari di DPR-RI membawanya mendalami berbagai sektor krusial. Sebagai anggota Komisi V, ia bertanggung jawab atas bidang-bidang vital seperti infrastruktur, transportasi, penanganan daerah tertinggal dan transmigrasi (DTT), meteorologi, klimatologi, dan geofisika, serta operasi pencarian dan pertolongan. Di internal partainya, Athari juga memegang amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional, sebuah posisi strategis yang menunjukkan kepercayaan partainya terhadap kapasitasnya.
Menilik latar belakangnya, Athari adalah putri sulung dari enam bersaudara, terlahir dari pasangan Epyardi Asda, seorang pengusaha dan politikus kawakan yang juga pernah menjabat anggota DPR-RI tiga periode dan Bupati Solok. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Jakarta, mengenyam pendidikan di berbagai institusi ternama mulai dari SD Muhammadiyah 24 hingga SMA Negeri 70. Perjalanannya menempuh pendidikan tinggi cukup beragam, sempat berkuliah di Universitas Bina Nusantara, Universitas Pelita Harapan, dan Universitas Bung Karno sebelum akhirnya meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Wiraswasta Indonesia pada tahun 2022.
Karier profesional Athari turut diwarnai pengalaman di dunia bisnis. Sebelum terjun sepenuhnya ke politik, ia pernah mengelola keuangan dan administrasi di PT Kaluku Maritima Utama (2013-2015) dan menjadi Direktur PT Kaluku Transport Utama (2015-2017). Pengalamannya ini tentu memberinya bekal pemahaman yang kuat dalam mengelola berbagai sektor, yang kemudian ia bawa ke ranah legislatif.
Pertarungan politik Athari dimulai pada Pemilu 2014, di mana ia bersama ayahnya maju sebagai calon anggota DPR-RI dari Partai Persatuan Pembangunan untuk daerah pemilihan Sumatera Barat I, meski belum berhasil kala itu. Namun, semangatnya tak padam. Pada Pemilu 2019, Athari kembali mencoba peruntungan dari Partai Amanat Nasional di daerah pemilihan yang sama, kali ini dengan nomor urut 1. Pada usianya yang ke-27 tahun, tekadnya berbuah manis. Ia berhasil terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2019-2024, menjadi satu dari empat perempuan dari Sumatera Barat yang berhasil menembus senayan, bersanding dengan Nevi Zuairina, Lisda Hendrajoni, dan Rezka Oktoberia. Dengan total 82.982 suara sah, ia membuktikan diri sebagai wakil rakyat yang dipercaya.
Selama masa jabatannya, Athari menunjukkan perhatian besar terhadap pembangunan di daerah pemilihannya. Ia memperkenalkan berbagai inisiatif yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Sumatera Barat, seperti program Sanitasi Masyarakat (Sanimas), Sanitasi Pedesaan (Sanides), dan Sanitasi Pesantren (Sanitren). Pada Agustus 2022, ia turut berperan dalam penyerahan dukungan sarana prasarana kegiatan di Kabupaten Sijunjung, hasil kerja sama dengan berbagai pihak pemerintah daerah, yang berfokus pada peningkatan infrastruktur.
Menyambut momentum Sumpah Pemuda pada 29 Oktober 2023, Athari mengingatkan pentingnya generasi muda Indonesia untuk bersiap menghadapi bonus demografi pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan RI. Ia menekankan peran krusial kaum muda sebagai agen perubahan untuk mendorong pertumbuhan bangsa. (PERS)

Updates.