OPINI - Di ruang-ruang kelas yang pengap dan perpustakaan yang tenang, ribuan anak bangsa menggantungkan harapan pada selembar surat keputusan beasiswa. Bagi mereka, dana tersebut bukan sekadar angka di buku tabungan, melainkan napas buatan yang memungkinkan mereka tetap bermimpi di tengah himpitan ekonomi. Namun, di balik layar birokrasi yang dingin, harapan-harapan tulus itu kerap kali dipangkas dan dijarah oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Praktik korupsi beasiswa ini berlangsung dalam kesunyian yang menyakitkan. Di atas kertas, laporan menunjukkan bahwa dana telah tersalurkan sepenuhnya kepada penerima yang berhak. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Ada mahasiswa yang harus rela "menyetorkan kembali" sebagian uangnya kepada oknum pemotong dengan dalih biaya administrasi atau uang terima kasih. Ada pula daftar nama penerima fiktif—nama-nama yang hanya ada di atas kertas—sementara uangnya mengalir deras ke rekening pribadi para pemangku kebijakan.
Pemandangan ini sungguh ironis dan memilukan. Di satu sisi, kita melihat mahasiswa yang terpaksa berhemat luar biasa, melewatkan jam makan, atau bekerja paruh waktu hingga larut malam karena dana yang diterima tidak utuh. Di sisi lain, para koruptor menikmati kemewahan dari hasil memotong jatah buku, biaya hidup, dan uang kuliah anak-anak muda ini. Integritas pendidikan yang seharusnya menjadi benteng terakhir moralitas bangsa, justru runtuh oleh ketamakan yang menyasar kelompok paling rentan dalam dunia akademik.
Korupsi beasiswa bukan hanya soal kerugian finansial negara, melainkan sebuah pembunuhan karakter dan masa depan. Ketika anggaran pendidikan dikhianati, pesan yang sampai kepada generasi muda adalah bahwa kejujuran tidak lebih berharga daripada kekuasaan dan koneksi. Rasa percaya terhadap sistem pun luntur, berganti dengan sinisme dan keputusasaan.
Setiap rupiah yang dikorupsi dari anggaran beasiswa adalah satu langkah mundur bagi kemajuan bangsa. Ini adalah luka dalam di wajah pendidikan kita; sebuah tindakan nista yang membuktikan bahwa bagi sebagian orang, tidak ada tempat yang terlalu suci untuk dikotori, bahkan masa depan anak cucu sendiri pun tega dijadikan komoditas untuk memperkaya diri.
JAKARTA, 14 Januari 2026
Dr. Ir. Hendri, ST., MT
Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia

Updates.