JAKARTA - PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mengambil langkah strategis untuk merampingkan organisasi melalui program pengunduran diri sukarela yang dikenal dengan skema golden handshake. Program ini dirancang untuk memberikan kompensasi menarik bagi karyawan yang memilih untuk mengakhiri masa bakti mereka secara dini. Pendanaan untuk program yang berpotensi mengubah lanskap tenaga kerja ini sepenuhnya bersumber dari penyertaan pinjaman senilai Rp 752, 80 miliar yang diterima dari PT Danantara Asset Management.
Skema golden handshake sendiri merupakan tawaran istimewa dari perusahaan kepada karyawan yang bersedia mengundurkan diri atau pensiun sebelum waktunya. Umumnya, paket ini mencakup pesangon bernilai besar, tunjangan pensiun tambahan, hingga berbagai manfaat lain seperti kelanjutan asuransi atau dukungan untuk pengembangan karier pasca-kerja. Ini adalah upaya perusahaan untuk memberikan penghargaan sekaligus memfasilitasi transisi bagi para karyawannya.
Perubahan struktur tenaga kerja ini terindikasi dari laporan keuangan perseroan per kuartal ketiga tahun 2025. Pada periode tersebut, jumlah karyawan Krakatau Steel beserta entitas anak tercatat sebanyak 3.878 orang. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang masih berjumlah 4.087 karyawan. Perbedaan ini mencerminkan langkah efisiensi yang mulai dijalankan.
Dalam laporan keuangan yang sama, terlihat pengeluaran signifikan pada pos arus kas dari aktivitas operasi untuk Pembayaran kepada Karyawan. Jumlahnya mencapai US$ 57, 70 juta, atau setara dengan Rp 963, 21 miliar. Langkah pengurangan karyawan secara sukarela ini merupakan bagian integral dari strategi restrukturisasi dan penyehatan keuangan perusahaan, yang bertujuan utama untuk menekan beban operasional.
Sebelumnya, Krakatau Steel telah mendapatkan lampu hijau dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menerima pinjaman senilai Rp 4, 93 triliun dari PT Danantara Asset Management. Dana pinjaman ini krusial untuk mendukung proses restrukturisasi perusahaan secara menyeluruh, sebuah langkah penting dalam upaya memulihkan kesehatan finansial perseroan. Nilai pinjaman ini sendiri lebih rendah dari usulan tambahan modal sebelumnya yang mencapai Rp 8, 35 triliun.
Pinjaman yang diterima dari PT Danantara Asset Management ini terbagi dalam dua skema utama. Pertama, sebesar Rp 4, 18 triliun dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja dengan tenor minimal lima tahun. Kedua, pinjaman senilai Rp 752, 80 miliar didedikasikan untuk mendanai program pengunduran diri sukarela melalui skema golden handshake, sekaligus untuk menyehatkan Dana Pensiun Krakatau Steel melalui mekanisme lump sum window dengan tenor minimal enam tahun.
Manajemen Krakatau Steel meyakini bahwa penambahan likuiditas ini akan memperkuat fondasi operasional perusahaan, memungkinkan kegiatan bisnis berjalan lebih optimal. Dampak positifnya diharapkan terasa pada penurunan biaya produksi, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing produk baja perusahaan di pasar. “Perseroan juga dapat mengoptimalkan volume produksi dan penjualan, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap penguatan kemandirian industri baja nasional dan mengurangi ketergantungan industri hilir terhadap baja impor, ” tulis manajemen Krakatau Steel dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (24/12).
Lebih lanjut, peningkatan volume penjualan ini juga dinilai akan sangat mendukung pemenuhan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk turunan baja yang krusial untuk berbagai proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan fokus pemerintah pada percepatan hilirisasi industri nasional.
Penggunaan dana pinjaman ini secara spesifik difokuskan pada dua area vital. Pertama, Rp 4, 18 triliun akan disalurkan untuk modal kerja, mencakup pengadaan bahan baku untuk pabrik Hot Strip Mill (HSM), pabrik cold rolled coil (CRC), serta mendukung pasokan bahan baku untuk pabrik pipa. Kedua, Rp 752, 80 miliar dialokasikan untuk program efisiensi melalui pelaksanaan golden handshake dan penyehatan Dana Pensiun Krakatau Steel melalui mekanisme lump sum window.
Menariknya, Krakatau Steel berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 22, 17 juta atau setara Rp 370, 19 miliar hingga kuartal ketiga tahun ini, sebuah pembalikan dramatis dari kerugian yang dialami di periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 185, 22 juta. Salah satu faktor kunci di balik perbaikan kinerja finansial ini adalah adanya pos laba atas penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan atas utang restrukturisasi yang mencapai US$ 156, 74 juta.
Di sisi lain, pendapatan usaha perusahaan baja ini menunjukkan pertumbuhan positif, tercatat sebesar US$ 706, 08 juta, naik 7, 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan ini berasal dari produk baja lokal senilai US$ 483, 55 juta dan produk baja luar negeri senilai US$ 40, 01 juta. Selain itu, pendapatan dari produk non-baja, yang meliputi sarana infrastruktur, rekayasa dan konstruksi, serta jasa lainnya, turut berkontribusi sebesar US$ 161, 38 juta, US$ 7, 12 juta, dan US$ 14 juta secara berurutan. Seiring dengan peningkatan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan juga mengalami kenaikan dari US$ 593, 23 juta menjadi US$ 652, 96 juta, sebuah indikasi dari peningkatan aktivitas produksi dan penjualan. (PERS)

Updates.