POLITISI - Perjalanan hidup Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Mbak Rerie, adalah bukti nyata ketangguhan dan dedikasi seorang perempuan. Lahir di Surabaya pada 30 November 1967, wanita yang kini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) periode 2019–2024 dan 2024–2029 ini, memiliki rekam jejak yang gemilang sebelum terjun ke dunia politik.
Sebelum menduduki kursi pimpinan parlemen, Mbak Rerie telah malang melintang di dunia korporat. Jabatan terakhirnya sebagai CEO Media Group dan Presiden Direktur Media Indonesia menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan mengembangkan bisnis media. Tak hanya itu, ia juga dipercaya menjabat sebagai direksi dan komisaris di berbagai anak perusahaan Media Group, membuktikan kejeliannya dalam mengelola berbagai lini bisnis.
Namun, kiprah Mbak Rerie tidak berhenti pada dunia bisnis semata. Ia memiliki kepedulian sosial yang tinggi, terbukti dengan perannya sebagai Dewan Pembina Yayasan Sukma Bangsa yang mengelola sekolah-sekolah unggulan di Aceh. Lebih dari itu, ia mendirikan Yayasan Dharma Bakti Lestari, sebuah wadah yang aktif berkontribusi dalam bidang kesehatan, pemberdayaan UMKM, pendidikan, serta pemberdayaan perempuan dan kepemudaan. Semangat pengabdiannya juga tercermin dari perannya sebagai salah satu pendiri Partai NasDem dan anggota Majelis Tinggi DPP Partai tersebut.
Di balik kesuksesannya, Mbak Rerie menyimpan kisah perjuangan pribadi yang luar biasa. Pada tahun 2016, ia didiagnosis mengidap kanker payudara HER2 Positif. Pengalaman ini tidak membuatnya menyerah, justru menjadi motivasi untuk terus berjuang dan menginspirasi banyak orang. Ia kerap berbagi pengalaman dan semangat kepada sesama penderita kanker, menekankan bahwa kanker bukanlah akhir segalanya, melainkan sebuah kesempatan untuk menjadi lebih baik dan berguna.
Karier profesionalnya dimulai di Royalindo Expoduta, sebuah bidang yang tidak linier dengan pendidikannya. Namun, tekadnya untuk terus belajar membawanya mengambil pendidikan Public Relation di London School. Di sanalah ia membuka pintu rezekinya ke dunia media, berawal dari tawaran mengisi posisi di Media Indonesia pada tahun 1993.
Bergabung dengan Media Indonesia di departemen periklanan, bakat menulisnya yang terasah sejak bangku kuliah kian bersinar. Pengalaman sebagai Editor di Weekly News Magazine dan copywriter di Wahyu Promospirit menjadi bekal berharga. Intuisi bisnisnya yang tajam menarik perhatian Surya Paloh, yang kemudian memberinya kesempatan mengelola Indocater, perusahaan katering bagian dari Media Group. Di bawah kepemimpinannya, Indocater bertransformasi menjadi salah satu perusahaan katering terbesar di Indonesia.
Keberhasilan demi keberhasilan di Indocater membuka banyak pintu kesempatan bagi Mbak Rerie untuk memimpin berbagai perusahaan lain di bawah naungan Media Group. Mayoritas perusahaan yang dipimpinnya menunjukkan pertumbuhan bisnis yang pesat, sebuah bukti nyata dari visi dan kepemimpinannya.
Dalam bidang sosial, Lestari Moerdijat aktif terlibat dalam berbagai inisiatif. Selain memimpin Yayasan Sukma Bangsa dan Yayasan Dharma Bakti Lestari, ia juga menjadi pendiri Persatuan Philanthropy Indonesia. Perhatiannya pada pencegahan kanker, khususnya kanker payudara, diwujudkan melalui gerakan seperti Sahabat Lestari dan 'Millenials Goes Pink'. Ia juga gencar memperjuangkan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional dan aktif dalam pelestarian batik Indonesia.
Pengalaman pahit tsunami Aceh pada 2004 memberinya pelajaran berharga. Bersama Surya Paloh dan tokoh lainnya, ia mendirikan Yayasan Sukma Bangsa yang berperan penting dalam membangun kembali pusat-pusat pendidikan di Aceh dan Nias. Ia juga terlibat dalam misi kemanusiaan lainnya, termasuk penanganan bencana tsunami Aceh/Nias dan Gunung Merapi, serta peran krusial dalam pembebasan 10 nelayan yang disandera kelompok Abu Sayyaf.
Yayasan Dharma Bakti Lestari, yang didirikannya pada 17 September 2018, menjadi wadah bagi Mbak Rerie untuk menyalurkan semangat sosialnya. Melalui yayasan ini, ia bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, serta mempromosikan potensi budaya dan pariwisata di Jawa Tengah. Komunitas Sahabat Lestari yang dibentuknya menjadi bukti nyata kepeduliannya terhadap masyarakat.
Kisah perjuangan Mbak Rerie melawan kanker payudara menjadi inspirasi. Didiagnosis pada usia 49 tahun, ia menghadapi cobaan tersebut dengan keberanian dan ketepatan mengambil tindakan. Dukungan keluarga dan semangat pantang menyerah membantunya melewati serangkaian pengobatan. Baginya, menjadi penyintas adalah kesempatan kedua untuk memberikan kontribusi positif bagi sesama.
Dalam ranah politik, Mbak Rerie adalah salah satu pionir Partai NasDem. Kiprahnya di dunia politik semakin menanjak saat ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan II Jawa Tengah dengan perolehan suara tertinggi. Penunjukannya sebagai calon pimpinan MPR oleh Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menegaskan kepercayaan partai terhadap kemampuan dan dedikasinya. Surya Paloh sendiri mengakui ketekunan, ketelitian, dan idealisme Mbak Rerie yang telah ia kenal selama lebih dari 30 tahun.
Penetapan dan pelantikan Lestari Moerdijat sebagai pimpinan MPR RI periode 2019-2024 menjadikannya satu-satunya politisi perempuan yang mengisi kursi kepemimpinan di lembaga tersebut. Keberadaannya di tengah para politisi laki-laki menjadi simbol komitmen partai dalam memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berkontribusi bagi bangsa. (PERS)

Updates.