JAKARTA - Upaya serius tengah digencarkan Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membuka akses pasar China yang lebih luas bagi produk-produk UMKM asal Indonesia. Misi ini menjadi prioritas utama demi mengamankan potensi pertumbuhan ekonomi para pengusaha kecil dan menengah di tanah air.
"Kedatangan kami ke sini adalah untuk membuka pasar pengusaha-pengusaha kecil dan menengah kita. Tentunya saya sebagai Menteri UMKM wajib membuka dan mengamankan akses pasar sebesar-besarnya untuk semua usaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia, " tegas Menteri UMKM Maman Abdurrahman di Beijing, Rabu (1/4/2026).
Kunjungan Maman ke China ini merupakan bagian dari partisipasinya dalam forum bergengsi "Indonesia–China SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026". Acara ini menjadi jembatan penting yang mempertemukan para pelaku usaha dari Tiongkok dengan para pembuat kebijakan di Indonesia, khususnya yang bergerak di sektor usaha dan UMKM.
Selain forum tersebut, agenda Maman juga mencakup pertemuan strategis dengan pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi serta Kementerian Perdagangan China. Ia juga dijadwalkan untuk bertatap muka langsung dengan perwakilan perusahaan-perusahaan terkemuka di Tiongkok, serta berinteraksi dengan sesama Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing.
Melihat populasi China yang mencapai sekitar 1, 4 miliar jiwa, Maman menekankan besarnya potensi pasar yang ditawarkan. "China ini kan punya sekitar 1, 4 miliar penduduk. Indonesia punya 280 juta penduduk sekaligus terbesar di ASEAN, jadi pasar potensial kedua negara sama-sama besar, " ungkap Maman.
Sebagai bukti nyata geliat ekspor UMKM Indonesia, Maman mencontohkan keberhasilan durian asal Indonesia yang kini telah berhasil merambah pasar China. Fenomena ini sangat terasa di Indonesia, di mana terkadang produksi durian melimpah ruah hingga pasar domestik tak mampu menampung seluruhnya.
"Dalam setiap musim durian sering sekali di Indonesia malah berlimpah. Bahkan durian Indonesia juga banyak yang tidak memanfaatkan karena terlalu banyak dan akhirnya pasar domestik tidak mampu menampung maka kami melakukan kerja sama dengan China untuk menjadikan China sebagai salah satu pasar buah durian kita, " tambah Maman.
Kendati demikian, Maman secara terbuka mengakui keunggulan China dalam aspek teknologi, termasuk dalam produksi alat-alat untuk UMKM. Ia menekankan pentingnya mengakui keunggulan tersebut sebagai langkah awal untuk kemudian berupaya mengadopsi dan mereplikasi teknologi yang relevan.
"Suka tidak suka, kita harus akui dari sisi teknologi, alat-alat produksi usaha kecil dan menengah itu China lebih unggul. Jadi kita harus berani mengakui itu, tapi bukan berarti kita tidak mulai mempersiapkan diri juga untuk mereplikasi atau mengadopsi beberapa teknologi mereka karena kami sedang melakukan bersama-sama dengan beberapa universitas, " ungkap Maman.
Upaya kemandirian produksi juga terus didorong. Maman menyebutkan bahwa untuk sejumlah alat produksi yang sudah mampu dibuat secara mandiri di Indonesia, impor dari China dapat diminimalkan.
Lebih lanjut, Maman mengungkapkan bahwa ada pula potensi ekspor produk jadi seperti pakaian dan batik asal Indonesia ke China. Pembicaraan mengenai konsep "trade-in" dan "trade-out" atau pertukaran barang sedang aktif dilakukan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif dalam perdagangan Indonesia-China pada tahun 2025, dengan nilai total mencapai 154, 58 miliar dolar AS. Nilai ekspor tercatat sebesar 67, 04 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 87, 54 miliar dolar AS. Peningkatan ekspor sebesar 6, 9 persen dan impor sebesar 18, 53 persen mengindikasikan dinamika perdagangan yang kian meningkat.
Komoditas ekspor Indonesia yang mencatat peningkatan signifikan ke China pada tahun 2025 meliputi perhiasan nonperak, feronikel, sel fotovoltaik, minyak kelapa sawit, emas, hingga kopi robusta.
Di sisi domestik, UMKM Indonesia menjadi tulang punggung perekonomian dengan jumlah mencapai 65, 5 juta unit usaha. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 61, 9 persen, serta menyerap lebih dari 119 juta tenaga kerja, atau sekitar 97 persen dari total angkatan kerja nasional. Sementara itu, China memiliki lebih dari 60 juta UKM pada akhir 2024, dengan sekitar 600.000 UKM berfokus pada inovasi teknologi, termasuk 14.600 perusahaan "raksasa kecil" yang memimpin di sektornya. (PERS)

Updates.