JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan kepastian bahwa proses investigasi mendalam atas serangan yang merenggut nyawa tiga personel kebanggaan Indonesia di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) tengah berjalan intensif. Pihak PBB optimis bahwa hasil penyelidikan ini akan segera terungkap ke publik dalam waktu dekat.
Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, dengan tegas menyatakan bahwa insiden penyerangan terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat ditoleransi dan pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Penyelidikan tengah berlangsung dan, meski dengan situasinya menantang, kami yakin dapat segera menyampaikan informasi terbaru terkait hasil penyelidikannya, " ujar Dujarric dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Markas PBB pada Rabu (1/4/2026) waktu setempat, seperti dilaporkan melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Kamis.
Ia mengakui bahwa meskipun proses investigasi membutuhkan waktu, tim ahli teknis PBB saat ini tengah bekerja keras memeriksa setiap bukti fisik yang ditemukan di lokasi kejadian. Tidak hanya itu, mereka juga aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terkait untuk mengumpulkan informasi selengkap mungkin.
Dujarric menambahkan bahwa upaya tim penyelidik untuk segera mencapai lokasi kejadian sedikit terhambat, mengingat adanya kebutuhan untuk meredakan ketegangan yang terjadi dengan pihak-pihak terkait di lapangan.
Namun demikian, PBB menjamin komitmen penuhnya untuk mengungkap fakta yang sebenar-benarnya di balik peristiwa tragis ini. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, terus memantau ketat situasi di lapangan demi menjamin keselamatan dan keamanan seluruh personel UNIFIL.
Kewaspadaan ini menjadi semakin krusial mengingat adanya laporan dari personel UNIFIL mengenai terjadinya "ledakan besar dan pembongkaran di desa Naqoura di dekat Markas UNIFIL" pada tanggal 1 April. Pihak UNIFIL juga mencatat adanya 62 kali pelanggaran ruang udara yang terjadi pada 31 Maret, di tengah meningkatnya aktivitas militer Zionis Israel serta peluncuran roket yang mengarah ke wilayah Israel dan personel Zionis di Lebanon.
Tragedi ini bermula ketika Praka Farizal Rhomadhon, seorang personel pasukan perdamaian UNIFIL asal Indonesia, gugur akibat tembakan artileri di dekat posisi kontingen UNIFIL Indonesia di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3). Sehari berselang, pada Senin (30/3), Indonesia kembali berduka atas gugurnya dua personelnya di UNIFIL, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, ketika konvoi yang mereka kawal diserang. (PERS)

Updates.