MAKASSAR – Di tengah pusaran persaingan global yang kian ketat, perguruan tinggi Muhammadiyah (PTMA) dituntut untuk terus berinovasi dan mengadaptasi strateginya agar tetap relevan. Penekanan ini datang langsung dari Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Bambang Setiaji, dalam sebuah diskusi penting yang digelar di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 6 November 2025, ini mengumpulkan para rektor dan pimpinan PTMA se-Sulawesi Selatan, serta dihadiri perwakilan dari luar provinsi.
Rektor Unismuh Makassar, Dr. Abd Rakhim Nanda, dalam sambutannya, memaparkan berbagai capaian universitasnya dalam pemeringkatan internasional bergengsi, termasuk Times Higher Education (THE) Impact Ranking, THE World University Ranking, QS Asia University Ranking, dan menanti hasil UI GreenMetric. “Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa Unismuh adalah perguruan tinggi yang terpercaya, dengan indikator kepercayaan publik yang kami bangun melalui akreditasi dan sertifikasi, ” ujar Rektor Nanda, menunjukkan komitmen terhadap kualitas dan transparansi.
Beliau juga mengungkapkan keprihatinan mengenai tingkat partisipasi kuliah siswa SMA di Sulawesi Selatan. “Dari sekitar 100 ribu lulusan SMA, 30 ribu terserap di perguruan tinggi negeri. Padahal APK Sulsel baru 43 persen. Berarti hanya 13 persen yang kita bagi dengan sesama PTS, ” jelasnya, menyoroti tantangan besar bagi perguruan tinggi swasta dalam menjangkau calon mahasiswa.
Prof. Bambang Setiaji menambahkan bahwa keberlanjutan perguruan tinggi swasta sangat bergantung pada jumlah mahasiswa. “Kampus swasta hidup dari jumlah mahasiswa. Karena itu, setiap fakultas harus mampu memasarkan diri dan menjaga kepercayaan masyarakat, ” tegasnya. Ia juga menggarisbawahi krusialnya penguasaan bahasa Inggris sebagai jembatan global dan matematika sebagai pembentuk logika berpikir yang tajam, demi membekali lulusan agar siap bersaing di kancah internasional.
Adaptasi terhadap era digital dan media sosial menjadi sorotan lain. Prof. Bambang mengingatkan, “Media sosial memengaruhi minat generasi muda. Namun, daya tarik kampus tetap harus dibangun dari kualitas nyata — bukan sekadar promosi.” Ini adalah pengingat bahwa esensi pendidikan dan mutu akademik tetap menjadi fondasi utama.
Dalam diskusi yang sama, Direktur Politeknik Muhammadiyah Makassar, Prof. Mustari Bosra, menyuarakan aspirasi untuk meningkatkan status pendidikan vokasi agar mendapat pengakuan yang setara. Menanggapi hal ini, Prof. Bambang menyambut baik. “Buka program D4, itu sekarang sangat diminati dan lulusannya bisa langsung praktik. Dunia kerja tidak hanya melihat gelar, tapi kompetensi nyata, ” dukungnya, menunjukkan pandangan progresif terhadap pendidikan vokasi.
Reformasi kurikulum di fakultas agama juga diusulkan. Prof. Bambang menyarankan agar kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan zaman. “Mahasiswa tarbiyah misalnya, bisa belajar cyber security atau ilmu komputer agar punya peluang kerja lebih luas, ” ungkapnya, mengilustrasikan bagaimana integrasi ilmu dapat membuka cakrawala baru bagi lulusan.
Sejumlah pimpinan kampus lain turut berbagi pengalaman, termasuk Rektor Institut Aisyah (INAS) mengenai proses perubahan kelembagaan dan Rektor Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai tentang pencapaian akreditasi unggul serta rencana pengembangan program studi baru. Menutup diskusi, Prof. Bambang mengapresiasi semangat terobosan para pimpinan PTMA di Sulawesi Selatan. “Setiap perguruan tinggi harus berani mengambil terobosan. Jangan hanya menunggu regulasi. Kalau menunggu aturan, kita akan tertinggal, ” tegasnya, menutup sesi dengan semangat ajakan untuk proaktif dan visioner. (muh.ac.id)

Updates.