Siliwangi di Tangan Sang Marbot, Jejak Sajadah, Kujang, dan Narasi Kemanunggalan

    Siliwangi di Tangan Sang Marbot, Jejak Sajadah, Kujang, dan Narasi Kemanunggalan
    Mayor Jenderal TNI Kosasih, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) III/Siliwangi

    BANDUNG - Di jantung Kota Bandung, Markas Komando Daerah Militer (Makodam) III/Siliwangi kini tampil dengan wajah baru yang tidak hanya kokoh secara militer, tetapi juga estetis dan sarat akan makna filosofis. Transformasi fisik ini seolah ingin menegaskan bahwa markas pejuang Siliwangi bukan sekadar deretan barak dan ruang kerja, melainkan sebuah ruang hidup yang merawat sejarah dan semangat kebangsaan melalui sentuhan arsitektur yang lebih manusiawi. ​

    Memasuki area Makodam III/Siliwangi, pengunjung akan segera disambut oleh sebuah oase yang diberi nama Taman Merdeka. Taman ini bukan sekadar penghias sudut ruangan, melainkan monumen hidup yang merayakan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia melalui ekosistem di dalamnya. 

    Di dalam kolam yang jernih, terdapat harmoni angka sakral yang diwakili oleh 17 ekor kura-kura sebagai lambang tanggal proklamasi selain itu di akuarium besar terdapat 8 ekor ikan arwana yang merepresentasikan bulan Agustus, serta 45 ekor ikan koi yang melambangkan tahun 1945. 

    Perpaduan fauna ini menciptakan lanskap visual yang indah sekaligus menjadi pengingat harian bagi setiap prajurit akan jati diri mereka sebagai pengawal kedaulatan yang lahir dari rahim kemerdekaan. ​Selain estetika taman, renovasi besar-besaran juga menyentuh aspek kesejahteraan prajurit melalui ruang-ruang makan yang kini diperindah untuk menciptakan suasana yang lebih hangat. 

    Pembangunan fasilitas olahraga pun menjadi prioritas dengan hadirnya lintasan lari dan jogging di lapangan utama yang kini menyandang nama Lapangan Serba Guna Serka Dedy Unadi. Penamaan ini merupakan bentuk penghormatan mendalam terhadap sosok ayahanda Panglima TNI, sekaligus simbol pewarisan nilai-nilai keprajuritan yang terus dijaga oleh generasi penerus. 

    Di balik kemegahan fisiknya, Makodam III/Siliwangi juga menyimpan fragmen sejarah yang menyentuh sanubari, sebagaimana dikisahkan oleh Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal Kosasih mengenai perjalanannya ke tanah Papua pada tahun 1998. 

    Kala itu, ia mengemban amanah unik berupa titipan sebuah Kujang tanpa gagang yang terbalut kain erat untuk dibawa ke Papua, Presiden RI Prabowo Subianto, yang saat itu memiliki keterikatan kuat dengan operasi di sana, meminta agar senjata tradisional tersebut dikembalikan kepadanya sekembalinya Kosasih dari Papua ke Jawa Barat. 

    Waktu akhirnya membawa pusaka tersebut kembali ke pangkuan Bumi Siliwangi. Kini, Kujang tersebut telah kembali dan Kosasih memegang kuasa penuh atas benda bersejarah yang kini tertancap dengan gagah di sebuah ruang khusus di dalam Makodam III/Siliwangi. Keberadaannya menjadi simbol "Maung" yang tetap terjaga, menandakan bahwa meski raga para pelakunya terus berganti, semangat dan mandat sejarah tetap tertanam kuat di markas ini. 

    Pembangunan fisik dan perawatan nilai sejarah ini berjalan seiring dengan komitmen keterbukaan institusi terhadap publik. Dalam semangat transformasi tersebut, Kodam III/Siliwangi menegaskan kesiapannya untuk memperkuat kolaborasi strategis dengan Pikiran Rakyat. 

    Sinergi ini diharapkan mampu menjadi jembatan informasi yang akurat, memastikan bahwa setiap derap langkah prajurit Siliwangi, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun pengabdian kepada masyarakat, dapat terwartakan dengan jernih dan inspiratif. 

    Makodam III/Siliwangi hari ini adalah perpaduan antara disiplin militer yang kaku dengan estetika yang menghaluskan jiwa. Di sini, sejarah tidak hanya diingat, tetapi dirawat dengan penuh kehormatan sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan. 

    Kisah Kehidupan Mayor Jenderal TNI Kosasih

    Sebuah kisah penuh makna pun diceritakan jenderal bintang dua tersebut. Dia menceritakan terkait gelapnya malam yang temaram di Jakarta, kata dia. ada seorang pemuda. Ia masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Baru saja ia merapikan alat-alat salat. Mengunci pintu masjid tempatnya mengabdi. Ya, ia seorang marbot. 

    Pemuda ini berasal dari pelosok desa di Kabupaten Pandeglang. Ia terpaksa merantau ke Jakarta saat baru kelas 6 SD. Tujuannya cuma satu: bisa melanjutkan pendidikan SMP dan SMA tanpa harus berjalan kaki puluhan kilometer seperti di kampung halamannya. 

    Di ibu kota, rumah kontrakan orang tuanya teramat kecil. Tak punya kamar. Ia pun memilih tidur dan tinggal di masjid. Menjadi marbot sejak masuk SMP hingga tamat SMA. Malam itu, dengan sisa tenaga, ia melangkah menuju gerobak mie ayam "Pak Yanto". Lokasinya di belakang Masjid Al-Falaq.

    Di tengah kesederhanaan santap malamnya, matanya merekam sebuah ironi. Sebuah peristiwa yang kelak membelokkan arah takdirnya secara drastis. Seorang oknum anggota TNI, dalam keadaan mabuk, baru saja selesai makan. Dengan lantang ia menolak membayar. Penuh arogansi, tentara itu menggebrak meja. Penjual yang renta itu ketakutan. Tak cukup sampai di situ, sang oknum mencabut sangkurnya. Menancapkannya tepat di atas gerobak kayu tersebut, lalu pergi berlalu begitu saja. 

    Sang pemuda terkesiap. Ia mematung. Dalam keheningan hatinya, gemuruh istigfar tak henti berkumandang melihat arogansi itu. Di detik itulah, ia merapal doa yang melampaui usianya. Niatnya seketika bulat. ​"Mudah-mudahan saya dapat menjadi tentara. Dan dapat memperbaiki akhlak tentara, " gumamnya dalam batin. 

    Baginya, seorang prajurit sejatinya lahir dari rahim rakyat. Untuk mengayomi. Melindungi. Membantu masyarakat yang membutuhkan. Bukan untuk melukai. Pemuda pendoa itu bernama Kosasih. Ia lahir 2 April 1971. Anak keempat dari enam bersaudara. Ia tumbuh dari peluh seorang pahlawan tanpa tanda jasa yaitu almarhum Ust. H. Jufran Efendi, guru mengaji sekaligus tokoh agama di kampungnya. Sang ibunda, almarhumah Hj. Siti Khadijah, setia mendampingi di pelosok Pandeglang, Provinsi Banten. ​

    Masa Muda yang Maha Berat

    Masa remajanya jauh dari buaian kemewahan. Waktunya diisi dengan bermain petak umpet, mandi di sungai, hingga mengumpulkan pasir untuk dijual demi sekadar uang jajan. Sepulang sekolah, ia memutar otak mencari uang saku tambahan. Melakoni berbagai pekerjaan kasar. 

    Menjelang remaja, rutinitas paginya sebelum berangkat sekolah adalah membanting tulang. Mengangkat batu bata dan mendorong pasir. Ia menjadi kuli di Toko Bangunan PD Dua Saudara yang berada persis di dekat masjid. Ia juga berjualan es mambo. Orang-orang menyebutnya "es kebo", harganya cuma Rp25.

    Tak berhenti di situ, ia menjajakan koran dan teka-teki silang (TTS). Tanpa disadari, waktu senggangnya mengisi TTS sembari menjaga dagangan koran kelak melatih kecerdasan otaknya. Menjadi bekal berharga untuk menembus ketatnya tes psikologi militer. 

    Fisiknya pun sudah tertempa alam. Ia punya hobi lari setiap sehabis subuh dan bermain sepak bola. Kelak, saat ujian fisik masuk militer, tak ada lagi rasa berat yang menyiksa. Semua peluh itu ia telan bulat-bulat demi menopang ekonomi keluarga. 

    Namanya sendiri tak disematkan sekadar sebagai pembeda. Orang tuanya memberi nama terinspirasi dari Raden Ahmad Kosasih. Mereka sangat mengagumi sosok R.A. Kosasih, Panglima Kodam III/Siliwangi ke-7 masa bakti 1958-1960. Jenderal masa lalu itu dikenal berwibawa, lincah, bersahaja. Suka blusukan. Merakyat tanpa sekat. Ada doa dan takdir tersirat dari pemberian nama itu. 

    Di sisi lain, karena sering mengajar mengaji anak-anak di sekitar masjid, Kosasih muda terinspirasi oleh seorang ketua rombongan haji, Haji Zainal Abidin. Beliau bisa berangkat haji gratis. Kosasih pun merasa, namanya yang berarti "ongkos dikasih" mungkin kelak akan membawa rezeki serupa suatu hari nanti. 

    Namun, jalannya menuju palagan militer harus ditempuh dalam kesunyian. Orang tuanya menaruh harapan yang sama sekali lain. Mereka ingin Kosasih masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta. Menjadi seorang pendakwah. Menjadi ustadz akademis. ​

    Rahasia Besar dan Perjuangan Menuju Akabri

    Maka, Kosasih muda terpaksa mendaftar tentara secara diam-diam. Ia berangkat mendaftar tes Akabri bersama 20 teman sekolahnya. Ia nekat memalsukan goresan pena sang ayah, Jupran, di formulir pendaftaran. Ia cemas tak akan direstui. Tanda tangan ayahnya itu kebetulan sangat sederhana, sehingga mudah ditiru. 

    Ada momen lucu, sekaligus mendebarkan. Saat pengumuman tahap awal di Cililitan, namanya dan beberapa orang lain tidak dipanggil pelatih. Sementara teman-temannya yang lain justru dipanggil. Ia sempat pasrah. Mengira telah gagal. Ternyata, panitia mengumumkan fakta kebalikannya. Nama-nama yang dipanggil itu justru peserta yang gugur.

    Kosasih bersyukur luar biasa. Ternyata ia melenggang ke tahap berikutnya. Rahasia besar itu baru ia singkap kepada kedua orang tuanya saat dinyatakan lolos seleksi ujian tingkat pusat di Magelang. Keberangkatannya ke Magelang pun penuh isak tangis dan pengorbanan. Sang kakak rela memecahkan celengan ayam jagonya demi memberi bekal. Nilainya saat itu hanya Rp19.500. Dari uang itulah ia membeli sepatu olahraga bekas di pasar loak Palmerah. Harganya Rp3.000. Sepatu loak itulah yang menemaninya lari dan ikut tes mati-matian, hingga sepatunya rusak dan "mangap". 

    Sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam, setelah resmi dinyatakan lulus dari kawah candradimuka Akademi Militer (Akabri) pada 1993, ia tak membuang sepatu itu. Ia menguburnya. Di bawah tiang jemuran barak di Magelang. Sambil menangis tersedu. Bahkan 25 tahun kemudian, saat acara reuni, ia menyempatkan diri mendatangi kembali tempat sepatu bersejarah itu bersemayam. ​

    Lulus dari Akabri, ia resmi menapaki jalan sunyi pengabdian

    Kini, puluhan tahun setelah doa di depan gerobak mie ayam itu menembus langit ketujuh, sang mantan marbot benar-benar memegang tongkat komando tertinggi di teritorial Jawa Barat. Lewat Surat Keputusan Panglima TNI tertanggal 31 Juli 2025, ia resmi diangkat menjadi Pangdam III/Siliwangi ke-47. Bintang dua berpendar gagah di pundaknya. ​Doa orang tuanya terkabul seutuhnya. Ia tidak hanya menjadi penerus nama Jenderal Kosasih yang merakyat, tetapi juga mewujudkan harapan berdakwah lewat jalan pengabdiannya sendiri. ​

    Jenderal Santri, Qori, dan Kesantunan yang Membumi

    Jejak kesantunan masa muda itu tak pernah luntur oleh pangkat. Julukan "Jenderal Santri" menempel erat. Selain karier militer yang cemerlang, rupanya ia punya bakat mendalam pada seni tilawah. ​Ia pernah masuk ke Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ). Ia menguasai tujuh tangga nada qira'at. Sebut saja Bayati, Hijaz, hingga Nahawand.

    Kemampuan mengaji ini terus ia asah secara otodidak melalui kaset, meski sedang sibuk hidup di barak dan bertugas sebagai tentara. Realitas kesantunan ini terekam sangat jernih. Tepatnya saat jajaran direksi dan redaksi Pikiran Rakyat bertandang ke Markas Kodam III/Siliwangi di Jalan Aceh, Kota Bandung, Senin pagi, 13 April 2026. 

    Langkah kaki memasuki gerbang Makodam acapkali diiringi tumpukan persepsi klasik di benak masyarakat sipil. Ada ketegasan yang sangat kaku. Protokoler yang membeku. Wibawa seragam loreng yang terkesan angker. Namun, tembok stigma itu luluh lantak seketika oleh sebuah senyuman. 

    Direktur Pikiran Rakyat, Tia Yuniarti, mendapati suasana yang sungguh anomali. Di ruang komando yang lekat dengan nuansa maskulin itu, ia justru disambut senyum hangat. Jabat tangannya erat bersahabat dari sang Panglima. ​"Saat melangkah masuk, jujur saja ada bayangan soal protokoler militer yang sangat kaku. Namun, sambutan Mayor Jenderal Kosasih sungguh di luar dugaan. Beliau sangat humble, bersahaja, dan langsung memecah kebekuan, " tutur Tia.

    Pagi itu ia hadir didampingi Pemimpin Redaksi PR Irwan Natsir dan General Manager PR Gatot Riyadi. Bahkan, kata Tia, mereka bisa duduk sejajar. Berdialog dengan sangat ramah. Merangkul masyarakat sipil dengan kehangatan. "Namun di saat yang sama, komitmen dan ketangguhan mereka tidak bergeser seinci pun untuk tetap menjaga kedaulatan Republik Indonesia tercinta ini, " ucapnya. 

    Kemanunggalan TNI dan rakyat bukan lagi sekadar semboyan yang tercetak di atas spanduk. Ia hidup. Ia terejawantahkan langsung dalam sikap pimpinannya. Senyum ramah Pangdam III/Siliwangi adalah representasi wajah modern prajurit yang siap menjadi pengayom siapa saja. Tentu saja, di balik keramahan tutur sapa seorang Mayor Jenderal TNI Kosasih, publik tetap bisa merasakan darah patriot yang pantang mundur. Prajurit-prajurit Siliwangi ini tetaplah benteng baja pertahanan negara. Tak kenal kompromi pada ancaman. ​

    Patriot Siliwangi dan Sejarah Pikiran Rakyat

    Kunjungan pagi itu di Makodam III/Siliwangi meninggalkan satu resonansi jernih: pelindung sejati bangsa ini tak butuh wajah yang sangar untuk dihormati. Kekuatan terbesar TNI hari ini justru tersembunyi dengan anggun di balik kerendahan hatinya untuk mencintai dan dicintai rakyatnya. Pertemuan yang diselimuti keakraban itu sejatinya memutar kembali roda sejarah. Sejarah yang mengikat erat institusi militer dan media massa di Jawa Barat.

    Di hadapan pimpinan Pikiran Rakyat, Mayor Jenderal Kosasih merawat ingatan tentang benang merah historis tersebut. Ia mengingatkan, gagasan awal pembentukan media massa ini turut dibidani oleh pendahulunya yaitu Pangdam Siliwangi periode 1960-1966, Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie. ​Sosok jenderal legendaris penumpas pemberontakan DI/TII itulah yang memprakarsai lahirnya koran PR edisi perdana pada 24 Maret 1966. 

    Momentumnya sengaja disandingkan dengan peringatan heroisme Bandung Lautan Api. ​"Fakta sejarah ini menunjukkan adanya peran strategis militer pada masa itu dalam proses lahirnya Pikiran Rakyat, " ujar Kosasih dengan nada penuh wibawa. Ia pun menaruh asa. Agar sinergi warisan masa lalu ini terus dirawat bersama demi mencerdaskan masyarakat. ​

    Jalur VIP Tahajud dan Filosofi Kepemimpinan

    Namun, di balik sapaannya yang menyejukkan dan filosofi kepemimpinannya yang merangkul kearifan lokal Sunda, Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, dan Silih Wawangi publik tak boleh abai pada lencana di dadanya. Mayor Jenderal TNI Kosasih sejatinya adalah sosok prajurit elite tempur yang mematikan di garis depan. ​

    Catatan kemiliterannya menyimpan riwayat yang menggetarkan. Ia bukanlah perwira yang sekadar duduk manis di belakang meja. Ia adalah lulusan Pendidikan Komando (1995) dan Kursus Spesialis Penembak Runduk atau Sniper (1995). Setahun berselang, instingnya makin ditajamkan lewat Counter Terrorism Intel Course (1996). Ketangguhan fisik dan mental baja sang Jenderal Santri diuji langsung di ring satu kekuasaan. Ia ditugaskan menjadi tameng hidup. Mengawal VVIP Presiden dan Wakil Presiden RI sejak tahun 2001 hingga 2007. 

    Jam terbang operasinya pun merentang yaitu menembus desingan peluru di Operasi Timor Timur dan rimbunnya belantara Operasi Irian. ​Di kancah internasional, jejak langkahnya telah merambah puluhan negara sahabat. Mulai dari misi pengamanan di zona bergolak seperti Yaman dan Sudan, hingga tugas kenegaraan di Rusia, Prancis, Inggris, dan Kuba. Toh, segala brevet elite tempur, deretan tanda kehormatan, dan pengalaman maut itu tak lantas membuatnya jemawa. Ia menolak berjarak dari rakyatnya. Ia selalu menjadikan nilai religius dan keimanannya sebagai rem penyeimbang kekuasaan. 

    Bersama sang istri tercinta yang selalu setia mendampingi, Asrwi Wiraningsih, serta kedua putrinya, Alfia Tasya Karisa dan Adelia Naila Karisa, Kosasih memilih untuk tetap membumi. ​Semua ketegasan komando dan kelembutan seorang bapak itu, pada akhirnya bermuara pada satu napas pengabdian tanpa pamrih. Sebuah laku hidup yang dijaga ketat oleh moto pribadinya, "Jabatanku adalah Ibadahku". Moto yang bersandar penuh pada kemuliaan hadis bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. ​

    Menggenapi perjalanan panjangnya, Jenderal Kosasih kerap menitipkan warisan tak kasat mata. Pesan-pesan hidup bagi generasi penerus bangsa yang berlandaskan ayat suci Alquran. Baginya, ada satu rahasia besar jika ingin mencapai sesuatu yaitu kekuatan tahajud. Ia amat meyakini, mintalah pada Tuhan di sepertiga malam. Mengapa? Karena itu adalah "jalur VIP" yang teramat sepi dari antrean. Sebuah resep sukses yang sederhana namun menghujam dalam. ​Ia juga selalu mengingatkan tentang fondasi segala rida. Ridho Allah, tegasnya, mutlak bergantung pada ridho orang tua.

    Bersamaan dengan bakti itu, ia mewanti-wanti agar jangan pernah pelit untuk bersedekah. Bahkan untuk sebuah sedekah yang tak perlu keluar uang sepeser pun: senyuman. Jenderal ini percaya penuh bahwa sedekah sanggup menolak bala. Mendatangkan rezeki berkali-kali lipat. Dan yang terpenting, tak akan pernah membuat seseorang jatuh miskin. Di medan pengabdian, ia menancapkan satu pedoman pasti. Menjadi abdi negara harus mencerminkan nilai sejati seorang PRAJURIT. Sebuah akronim yang ia susun dari pengalaman jiwanya: Profesional, Religius, Adil, Jujur, Ulet, Reaktif, Inisiatif, dan Teguh.

    Nilai-nilai luhur ini melebur utuh dengan prinsip masyarakat Sunda yang selalu ia bawa ke mana pun kaki melangkah. ​Kisah hidup Jenderal Kosasih, pada akhirnya, adalah sebuah pembuktian nyata. Bahwa kesederhanaan, keteguhan iman, dan kerja keras yang tak kenal menyerah, selalu sanggup mengubah kemustahilan menjadi sebuah kenyataan yang teramat membanggakan. (PERS)

    siliwangi mayor jenderal kosasih
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Tim Pelatnas Taekwondo Indonesia Sabet 4...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Prospek Kawasan Industri Smelter di Luwu Timur
    PEDULI SESAMA, PRAJURIT SATGAS PAMTAS YONKAV 3/AC BANTU PROSES PEMAKAMAN WARGA DESA SEI TEKAM
    Polisi Kawal Program Ketahanan Pangan, Penanaman Jagung 2 Hektare di Solok Selatan Ditarget Panen 10 Ton
    SENTUHAN KASIH DI PERBATASAN, SATGAS PAMTAS RI–MALAYSIA YONKAV 3/AC BAGIKAN ALKITAB
    Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat, Satgas Yonif 631/Antang Gelar Komsos dan Bintahwil di Mamba Bawah

    Ikuti Kami