POLITISI - Sejak 4 Februari 2025, kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk daerah pemilihan Aceh I ditempati oleh figur baru, Teuku Ibrahim. Keputusan ini diambil menyusul pengangkatan Teuku Riefky Harsya ke posisi Menteri Ekonomi Kreatif. Bagi saya, pergantian ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan sebuah dinamika yang menunjukkan bagaimana panggung politik terus bergerak, membuka jalan bagi para politikus untuk mengabdikan diri dalam kapasitas yang berbeda.
Teuku Ibrahim, yang lahir pada 8 Agustus 1969, telah menorehkan jejaknya sebagai politikus yang aktif dalam kancah politik nasional. Bergabung dengan Partai Demokrat, kehadirannya di parlemen diharapkan membawa angin segar dan perspektif baru dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Aceh I.
Pengalaman dan visi yang dibawa oleh Ibrahim tentu menjadi modal penting dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Bagaimana ia akan mengimplementasikan program-program kerakyatan dan berkontribusi pada pembangunan daerahnya, tentu patut kita nantikan.
Namanya Teuku Ibrahim, namun masyarakat Aceh lebih akrab menyapanya Bang Bram, Pak Bram, atau bahkan Ampon Bram – sebuah gelar kehormatan yang disematkan untuk orang-orang terkemuka di tanah Rencong. Kini, ia tengah membulatkan tekad untuk melangkah ke Senayan, mendaftarkan diri sebagai Calon Anggota DPR-RI periode 2024-2029, mengusung nomor urut 2 dari Partai Demokrat. Pemilu Serentak 14 Februari 2024 akan menjadi saksi langkah politiknya dari Dapil Aceh I, wilayah luas yang mencakup 12 kabupaten dan 3 kota di Serambi Mekkah.
Perjalanan politik Ibrahim bukanlah hal baru. Kariernya dimulai pada tahun 2003 sebagai Sekretaris Partai Demokrat Kabupaten Aceh Besar. Kekaguman mendalam pada sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sang penggagas Partai Demokrat, menjadi pemicu utama Ibrahim bergabung. Ia menyaksikan sendiri bagaimana partai yang lahir di awal milenium ini berhasil mengantarkan SBY menjadi Presiden RI ke-6, sebuah pencapaian yang semakin memantapkan keyakinannya pada kepemimpinan SBY.
Momen paling krusial yang menguji kepemimpinan SBY, dan sekaligus memperkuat rasa hormat Ibrahim, adalah saat Aceh diluluhlantakkan oleh gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Di tengah kepedihan mendalam, SBY menunjukkan ketangguhan luar biasa. Ia memaparkan kondisi Aceh di hadapan dunia, memicu gelombang bantuan internasional. Tak hanya itu, SBY dengan berani menjadikan musibah ini sebagai momentum perdamaian, mempertaruhkan kredibilitasnya untuk merajut kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hasilnya, pada 15 Agustus 2005, perdamaian terwujud, sebuah pencapaian monumental yang diakui dunia, bahkan berujung penghargaan PBB bagi SBY pada tahun 2011 atas upayanya mengurangi dampak bencana.
Pengalaman ini turut membentuk Ibrahim. Menjelang Pileg 2009, ia tak hanya maju sebagai Caleg DPRK Aceh Besar, tetapi juga didaulat menjadi Ketua Tim Kampanye Pemenangan Pilpres SBY-Boediono di wilayah yang sama. Kedua amanah besar itu diemban dengan gemilang. Ia terpilih menjadi Anggota DPRK Aceh Besar dan turut mengantarkan SBY-Boediono memimpin Indonesia. Kemenangan telak SBY-Boediono di Aceh, dengan perolehan suara sekitar 93 persen pada Pilpres 2009, menjadi bukti nyata apresiasi masyarakat Aceh atas kepemimpinan SBY dalam mengatasi tsunami dan melahirkan perdamaian.
Selanjutnya, Ibrahim melanjutkan pengabdiannya di tingkat provinsi, terpilih sebagai Anggota DPRA pada Pemilu 2014 dan 2019. Pengalaman panjangnya di parlemen membuatnya dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh serta Penasehat Fraksi Partai Demokrat DPRA.
Namun, di balik langkah politik yang terkesan mulus, Ibrahim dikenal sebagai politisi yang sangat dekat dengan rakyat. Julukan 'politisi yang melayani bukan politisi yang dilayani' bukanlah tanpa alasan. Ia kerap berkeliling ke pelosok Aceh, tanah kelahirannya, hanya untuk menyerap aspirasi dan memahami langsung permasalahan yang dihadapi masyarakat. Ia tak hanya mendengar, tetapi juga berupaya keras memperjuangkan solusi.
Fokus perjuangan Ibrahim mencakup kesejahteraan petani dan nelayan, dua profesi yang mendominasi mayoritas masyarakat Aceh. Ia juga tak henti memperjuangkan hak atas kesehatan dan pendidikan yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Kepeduliannya meluas hingga kaum duafa, yatim piatu, dan penyandang disabilitas, melalui berbagai upaya kemanusiaan dan bantuan sembako.
Tak hanya di ranah domestik, rasa kemanusiaan Ibrahim juga terentang hingga ke kancah internasional. Sebagai Ketua Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Aceh, ia ikut bersuara atas serangan zionis Israel di Gaza yang merenggut banyak nyawa anak-anak. Dengan semangat cinta damai, ia menyerukan negosiasi untuk kesetaraan dan perdamaian bagi Palestina, negara yang pernah mendukung kemerdekaan Indonesia.
Pengabdian kemanusiaan Ibrahim juga terlihat dari perannya sebagai Ketua Bidang Organisasi di Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh. Kisah unik terjadi saat silaturahmi di Kota Sigli, Pidie. Ratusan masyarakat hadir, sebagian harus berdiri. Di tengah keramaian itu, Ibrahim berjanji memperjuangkan aspirasi masyarakat, terutama terkait Dana Otonomi Khusus Aceh. Tak lama berselang, seorang warga bernama Linda terkejut mendapati Ibrahim tak hanya berjanji, tetapi juga telah memberikan kursi roda bagi sejawatnya yang sakit, tanpa pernah dijanjikan sebelumnya. Ibrahim memegang prinsip teguh: jangan mengecewakan masyarakat. Jika bisa membantu langsung, ia lakukan. Jika belum, ia perjuangkan.
Prinsip inilah yang menjadikan kediaman Ibrahim dijuluki 'Rumah Rakyat'. Terbuka 24 jam tanpa terkecuali, Ibrahim siap menerima siapa saja. Bahkan, di hari raya besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, ia menyajikan hidangan prasmanan melimpah untuk menyambut masyarakat, ingin mereka merasa seperti di rumah sendiri. Salam hangat, 'pajoh aju ubee-bee eik' (makanlah sepuas-puasnya), menjadi ungkapan penghormatan warisan leluhur Aceh yang selalu ia sampaikan.
Ibrahim tampil membumi, kerap mengenakan sarung dan peci, tak ubahnya masyarakat kebanyakan. Ia telah mapan secara ekonomi, sehingga fokus utamanya adalah mengabdi. Cita-cita mulianya ini mendapat dukungan penuh dari sang istri tercinta, Rida Ariani, yang juga mencalonkan diri sebagai Anggota DPRK Aceh Besar dan dikenal dekat dengan kaum perempuan.
Jiwa sosial keduanya disambut hangat masyarakat. Buah tangan berupa hasil laut berkualitas seringkali dibawa warga sebagai tanda terima kasih. Namun, Ibrahim selalu bersikeras membelinya, tak ingin memberatkan. Bagi Ibrahim, bantuan permodalan bagi pelaku UMKM, khususnya kuliner, adalah bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ia memahami betul peran vital UMKM dalam penyerapan tenaga kerja dan investasi.
Demikian sekilas profil HT Ibrahim, politisi yang oleh masyarakat Aceh dijuluki sebagai sosok yang telah 'terbukti bekerja melayani rakyat'.
DATA PRIBADI
Nama Lengkap: H.T. Ibrahim, ST., M.M.
Tempat, Tanggal Lahir: Banda Aceh, 08-08-1969
Agama: Islam
Alamat: Desa Lieu, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh
RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL
1978-1983: MIN Tungkop Darussalam, Aceh
1984-1986: SMPN Darussalam, Aceh
1987-1989: STM Negeri Banda Aceh
2003-2009: S-1 Teknik Sipil, Universitas Abulyatama, Aceh
2010-2012: S-2 Pasca Sarjana Unsyiah, Aceh
KELUARGA
Istri: Hj. Rida Ariani, AMK
Anak: Rizky Ibdayansyah, Dinda Rizka Ibdayanti, Raisa Alya Ibdayanti
RIWAYAT PEKERJAAN
1990-1992: Asisten Teknis PT Fajar Baizury Aceh Barat
1993-2007: Direktur CV. Mandiri Karya Utama Rizky Aceh Besar
2009-2014: Anggota DPRK Aceh Besar/Wakil Ketua DPRK Aceh Besar
2014-2019: Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRA
2019-2022: Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRA
2022 - Sekarang: Penasehat Fraksi Partai Demokrat DPRA
RIWAYAT PERJUANGAN
2008-2009: Ketua Tim Kampanye Pemenangan Pilpres SBY-Boediono untuk Kabupaten Aceh Besar
RIWAYAT ORGANISASI
2003-2007: Sekretaris DPC Partai Demokrat Aceh Besar
2006-2011: Bendahara GAPENSI Banda Aceh
2007-2012: Sekretaris DPC Partai Demokrat Aceh Besar
2008-2013: Sekretaris GAPKINDO Aceh
2011-2016: Ketua KONI Aceh Besar
2012-2017: Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Besar
2015-2021: Ketua Komite Lab. School Unsyiah
2015-2021: Ketua Komite SMPN VI Banda Aceh
2017-2021: Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Besar
2017-2022: Ketua Bid. SDM & Pertambangan Pemuda Pancasila
2019-2024: Wakil Ketua Umum Kadin Aceh Bidang Otonomi Khusus dan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA)
2019-2025: Ketua Ikatan Alumni Teknik Sipil Universitas Abulyatama, Aceh
2020-2025: Wakil Ketua APINDO Aceh
2020-2025: Ketua Bidang Organisasi Palang Merah Indonesia Prov. Aceh
2021-2026: Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh
2022-2027: Ketua Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Aceh
Bendahara FORSIAR (Forum Silaturahmi Aceh Rayeuk) di Kab. Aceh Besar
Ketua Forsila Kubra Beurawe (Forum Silaturahmi Kopi Cut Zien Beurawe) (PERS)

Updates.