William Lever: Sang Visioner di Balik Raksasa Produk Rumah Tangga Unilever

    William Lever: Sang Visioner di Balik Raksasa Produk Rumah Tangga Unilever
    William Lever

    BISNIS - Di balik gemerlap merek-merek produk rumah tangga yang kita kenal, tersimpan kisah tentang seorang visioner bernama William Lever. Dialah sosok di balik berdirinya Unilever, salah satu konglomerat barang konsumsi terbesar di dunia, yang jejaknya kini bersaing ketat dengan raksasa seperti P&G dan Nestlé.

    Kisah William Lever, yang nama lengkapnya adalah William Hesketh Lever, dimulai pada 19 September 1851 di Bolton, Inggris. Lahir di tengah keluarga bangsawan, Lever muda tak langsung tenggelam dalam kemewahan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah swasta sebelum akhirnya melanjutkan ke sekolah gereja hingga usia 15 tahun. Di usia muda inilah, ia mulai merasakan denyut nadi bisnis keluarga, membantu ayahnya mengelola usaha grosir di kota kelahirannya.

    Pengalaman inilah yang tampaknya menempa naluri bisnisnya. Beberapa tahun kemudian, Lever menemukan formula untuk sabun cuci yang revolusioner: Sunlight. Inilah titik balik yang membawanya terjun ke dunia industri sabun rumahan pada 1885. Ia tak gentar mengambil alih pabrik sabun kecil yang merugi, melihat potensi besar di sana.

    Strategi Lever sungguh brilian untuk masanya. Ia melihat bagaimana sabun umumnya dijual berdasarkan berat, namun ia memecahnya menjadi ukuran-ukuran kecil yang praktis dan dibungkus satu per satu. Inovasi ini, yang berakar dari pengalamannya dengan produk mentega dan komoditas lainnya, membuat produknya mudah dijangkau dan disukai konsumen.

    Tahun 1886 menjadi saksi lahirnya Lever Brothers, perusahaan yang kelak menjadi cikal bakal Unilever. Bersama saudaranya, James Lever, perusahaan ini menjadi pionir dalam memproduksi sabun dari minyak nabati. Merek Sunlight pun dengan cepat merajai pasar Inggris, tak hanya sebagai produk pembersih, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup bersih yang dipopulerkan Lever.

    Keberhasilan Sunlight tak terbendung. Permintaan yang melonjak membuat Lever Brothers harus memindahkan produksinya ke lokasi yang lebih luas di Birkenhead, Inggris. Di sana, tak hanya pabrik besar yang berdiri, tetapi juga sebuah desa bernama Port Sunlight yang didedikasikan untuk para pekerjanya. William Lever berhasil membawa Lever Brothers menjadi pemain utama di industri produk rumah tangga Inggris.

    Sayangnya, William Lever tak sempat menyaksikan penggabungan epik yang melahirkan Unilever. Ia meninggal pada 7 Mei 1925. Namun, visi dan kerja kerasnya meletakkan fondasi yang kokoh.

    Sementara itu, di Belanda, dua pengusaha margarin, Jurgens dan Van den Bergh, yang telah berdiri sejak 1872, juga menghadapi persaingan ketat. Pada 1927, mereka bergabung dengan produsen margarin lain membentuk Margarine Unie.

    Titik temu sejarah terjadi pada 1930. Lever Brothers, yang saat itu dipimpin oleh Frances D’Arcy Cooper, bergabung dengan Margarine Unie. Penggabungan lintas negara ini, yang terbilang tak lazim kala itu, didorong oleh visi bersama untuk memperkuat jaringan global dan membuka peluang baru. Dari sinilah, nama legendaris “Unilever” tercipta.

    Di bawah kepemimpinan Cooper pasca William Lever, Unilever terus berekspansi. Era 1930-an hingga 1940-an menjadi periode pengembangan bisnis di Amerika Latin, perluasan area bisnis, serta penciptaan lini produk baru seperti makanan dan bahan kimia. Kemitraan strategis dengan Thomas J. Lipton (teh) dan Pepsodent (pasta gigi) pada 1944, serta Bird Eye (makanan beku) dan Good Humor (es krim) di tahun-tahun berikutnya, semakin memperkuat posisinya.

    Memasuki dekade 1980-an, Unilever melakukan restrukturisasi besar dengan memfokuskan diri pada bisnis inti: makanan, perlengkapan mandi, deterjen, dan bahan kimia khusus. Kini, Unilever berdiri sebagai raksasa global yang produknya mengisi rak-rak di seluruh dunia, mulai dari merek makanan seperti Blue Band dan Ben & Jerry's, produk rumah tangga seperti Surf dan Domestos, hingga produk perawatan pribadi seperti Dove dan Pepsodent. Di Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk menjadi perpanjangan tangan utama perusahaan ini dalam melayani konsumen tanah air, bersaing ketat dengan pemain lokal lainnya. (PERS)

    william lever unilever sejarah bisnis tokoh inspiratif produk rumah tangga inovasi
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Lee Byung-chull: Dari Penjual Sayur ke Pendiri...

    Artikel Berikutnya

    Dato' Sri Tahir: Dari Surabaya Menuju Puncak...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Personil Polsek Cikampek Aiptu Nana Pengamanan Penyaluran Bantuan Pangan di Desa Parakanmulya Guna Kelancaran Giat 
    Patroli Malam Minggu Polsek Cikampek Cegah C3 Sasar Jalur Interchange Kalihurip dan Kawasan Indotaisei 
    Cegah C3, Tawuran dan Gank Motor, Patroli Subuh Połsek Cikampek Pantau Jalur Dawuan 
    Polsek Cikampek dan Kades Kertawaluya Kawal Langsung Evakuasi Mesin dan Cabin Pesawat GA8 Airvan dari Sawah 
    Polres Pasaman dan Bhayangkari Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Banjir Bandang di Koto Alam Salareh Aia, Agam

    Ikuti Kami