OPINI - Matahari memapar terik di atas atap seng deretan rumah di sebuah desa pelosok. Di sana, seorang ibu paruh baya sedang berjongkok di depan sebuah kran pipa besi yang tampak kokoh namun kering kerontang. Sudah berbulan-bulan, pipa yang merupakan bagian dari proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) itu tak mengeluarkan setetes air pun. Harapan warga akan air bersih yang mengalir langsung ke dapur mereka, kini hanyalah monumen besi yang perlahan mulai berkarat dimakan cuaca.
Ironisnya, kegagalan fungsi ini bukan karena sumber air yang mengering atau kendala teknis alami, melainkan karena "tangan-tangan dingin" yang memotong anggaran di balik meja kantor yang sejuk. Proyek yang seharusnya menjadi penyambung nyawa bagi ribuan rakyat kecil, justru dijadikan ladang basah bagi para pemburu rente.
Pemandangan di lapangan seringkali kontras dengan laporan megah di atas kertas. Di balik beton-beton tandon air yang retak sebelum waktunya, tersimpan cerita tentang material yang tak sesuai spesifikasi. Pipa-pipa yang seharusnya memiliki ketebalan standar untuk menahan tekanan, diganti dengan kualitas rendah demi menyisihkan sisa uang untuk kantong pribadi. Akibatnya, saat tekanan air pertama kali dicoba, kebocoran terjadi di mana-mana, menguapkan harapan warga bersama air yang tumpah sia-sia ke tanah.
Di ruang-ruang penyidikan, terungkaplah aroma busuk yang lebih pekat dari air limbah. Para pejabat yang seharusnya menjadi wali bagi kesejahteraan publik, justru terjebak dalam pusaran suap dan pengaturan tender. Mereka menukar hak dasar rakyat—hak atas air bersih—dengan tumpukan uang tunai dalam koper, perjalanan mewah, hingga aset-aset properti yang tak akan pernah dirasakan manfaatnya oleh warga di desa terpencil.
Korupsi pada proyek air minum adalah jenis kejahatan yang melukai sisi paling mendasar dari kemanusiaan. Ketika dana dialihkan, dampaknya bukan sekadar angka kerugian negara di laporan BPK, melainkan anak-anak yang terpaksa mengonsumsi air keruh dan para ibu yang harus berjalan berkilo-kilometer memikul jeriken di bawah panas yang membakar.
Setiap rupiah yang dikorupsi dari proyek SPAM adalah tetes air yang dirampas dari mulut rakyat yang dahaga. Proyek ini bukan sekadar infrastruktur beton dan besi; ia adalah janji negara untuk kehidupan yang lebih layak. Namun, selama korupsi masih mengalir lebih lancar daripada air di pipa-pipa itu, maka selama itu pula rakyat hanya akan menatap kran-kran kosong, menunggu sebuah janji yang entah kapan akan dipenuhi.
JAKARTA, 14 Januari 2026
Dr. Ir. Hendri, ST., MT
Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia

Updates.