JAKARTA - Semangat kolaborasi antara Indonesia dan Georgia kian membara dalam sektor pendidikan tinggi. Kedua negara kini bertekad mempercepat finalisasi nota kesepahaman (MoU) yang akan menjadi landasan kokoh bagi berbagai program unggulan. Fokus utama diarahkan pada pertukaran mahasiswa yang dinamis, riset bersama yang inovatif, serta pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Langkah strategis ini terwujud nyata dalam pertemuan hangat antara Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dengan Duta Besar Georgia untuk Indonesia, H.E Tornike Nozadze. Audiensi berlangsung di kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta, pada Kamis (2/4/2026).
Dalam forum yang konstruktif itu, kedua belah pihak menemukan titik temu krusial. Kesepakatan tercapai bahwa MoU antarpemerintah atau government-to-government (G2G) harus segera diselesaikan. Dokumen ini krusial sebagai payung hukum yang akan memudahkan institusi perguruan tinggi untuk merajut kolaborasi yang lebih konkret dan berdampak.
Wamendiktisaintek, Stella Christie, menyampaikan visi mendalamnya terkait perubahan pendekatan dalam kerja sama internasional. Ia menekankan pentingnya pergeseran dari sekadar formalitas menjadi kolaborasi yang benar-benar substansif.
"Kami ingin mengubah kultur kerja sama internasional, benar-benar kerja sama yang substansif berupa pertukaran, riset, dan kolaborasi nyata. Kami sangat ingin memiliki MoU government-to-government sebagai payungnya, sehingga perguruan tinggi tidak perlu lagi fokus pada MoU, tapi langsung bekerja pada konten dan implementasi, " ujar Wamendiktisaintek Stella Christie, dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat.
Pendekatan inovatif ini selaras dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang secara tegas mendorong agar setiap kerja sama internasional mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi di tanah air.
Lebih lanjut, Wamendik Stella menyoroti penguatan kerja sama pada jenjang pascasarjana (S2 dan S3). Prioritas khusus diberikan kepada dosen dan tenaga akademik muda. Strategi ini dinilai sangat jitu karena berpotensi memberikan dampak berlipat ganda. Para penerima program yang kelak kembali ke Indonesia diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik sekaligus memperluas wawasan mengenai mitra internasional di lingkungan perguruan tinggi.
Senada dengan hal itu, Duta Besar Georgia, Tornike Nozadze, turut menggarisbawahi pentingnya pertukaran mahasiswa dan interaksi langsung antarmasyarakat. Baginya, elemen-elemen inilah yang menjadi kunci utama dalam membangun pemahaman mendalam dan hubungan jangka panjang yang kuat antara Indonesia dan Georgia.
"Tidak ada yang lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman antarnegara selain pertukaran pelajar dan interaksi langsung antarmasyarakat, " ujar Duta Besar Tornike Nozadze.
Sebagai bagian integral dari implementasi kerja sama ini, Indonesia dan Georgia berencana untuk saling bertukar informasi yang komprehensif. Informasi tersebut mencakup detail program studi berbahasa Inggris, skema beasiswa yang menarik, serta profil lengkap perguruan tinggi di kedua negara. Upaya ini diharapkan dapat membuka pintu akses dan partisipasi mahasiswa dalam program internasional, sekaligus memperluas cakrawala pemahaman masyarakat mengenai beragam peluang pendidikan yang tersedia di masing-masing negara. (PERS)

Updates.