INTERNASIONAL - Jutaan warga Amerika Serikat diperkirakan akan tumpah ruah ke jalan pada Sabtu (29/03/2026), dalam gelombang aksi nasional ketiga yang dikenal sebagai “No Kings” (Tidak Ada Raja). Momentum ini menjadi suara penolakan tegas terhadap arah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Aksi demonstrasi yang terorganisir secara masif ini tidak hanya menggema di seluruh 50 negara bagian AS, tetapi juga merambah ke 16 negara lain. Ini menandai salah satu bentuk protes paling terkoordinasi dalam sejarah modern Amerika.
Diperkirakan lebih dari 3.000 acara demonstrasi telah disiapkan di seluruh penjuru negeri, sebuah angka fantastis yang dilaporkan oleh para penyelenggara seperti organisasi anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, bersama dengan serikat pekerja dan berbagai perkumpulan akar rumput.
Aksi serupa sebelumnya, yang digelar pada Oktober 2025, dilaporkan berhasil mengumpulkan 7 juta pengunjuk rasa di seluruh Amerika Serikat, menunjukkan skala kekecewaan publik yang mendalam.
Protes kali ini terjadi di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, bahkan sebagian pendukungnya yang paling setia pun turut menyuarakan rasa frustrasi mereka.
Kritik tajam dilontarkan kepada Trump terkait sejumlah isu krusial. Konflik dengan Iran yang merenggut nyawa 13 personel militer AS, lonjakan harga barang pokok dan minyak mentah, dampak tarif impor yang terasa pada kebutuhan sehari-hari, serta antrean panjang pemeriksaan keamanan di bandara akibat kebuntuan pembahasan anggaran, menjadi poin-poin keluhan utama para pengunjuk rasa.
Di Minnesota, ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol negara bagian, dalam apa yang disebut oleh pendiri Indivisible, Ezra Levin, sebagai “protes terbesar dalam sejarah Minnesota.” Sementara itu, di Washington D.C., belasan ibu asal Palestina menggelar aksi damai di depan Lincoln Memorial, mengibarkan bendera Palestina raksasa, sebuah pemandangan yang menggugah emosi.
"Sebagian besar rakyat Amerika tidak menyadari bahwa uang pajak kita turut menyubsidi tindakan kekerasan, " ungkap Hazami Barmada (43), seorang pengunjuk rasa, sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian.
Ia menambahkan, “Ini terjadi di saat banyak warga Amerika kesulitan membayar tempat tinggal, susu, sekolah, bahkan layanan kesehatan. Harga-harga terus meroket selagi kita terlibat dalam perang yang sesungguhnya adalah perang Israel.”
Di sisi lain, unjuk rasa tandingan juga dilaporkan terjadi di beberapa lokasi. Di West Palm Beach, Florida, sekitar 50 pendukung Trump dengan atribut “Proud Boys” terlihat berhadapan dengan para pengunjuk rasa “No Kings”, menciptakan ketegangan singkat sebelum situasi terkendali.
Koalisi “No Kings” secara tegas menekankan bahwa aksi mereka murni tanpa kekerasan. Segala bentuk senjata sangat dilarang, dan para pemimpin aksi telah dibekali pelatihan deeskalasi konflik untuk menjaga ketertiban.
Pengalaman pahit dari aksi “No Kings” pertama pada Juni 2025, di mana seorang pengunjuk rasa tewas dan satu lainnya terluka akibat insiden penembakan oleh seorang relawan 50501 di Salt Lake City, Utah, menjadi pengingat penting akan perlunya kewaspadaan dan komitmen terhadap perdamaian. (PERS)

Updates.