POLITISI - Lahir di Palembang pada 12 Mei 1968, Syarif Fasha memulai perjalanan hidupnya dengan semangat juang yang luar biasa. Keterbatasan biaya di masa kecil tak memadamkan api belajarnya. Meski tak sempat mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak, ia justru membuktikan diri menjadi pribadi yang gigih. Di bangku Sekolah Dasar Pertamina IX Palembang (1975–1981), ia berjuang keras mengejar ketertinggalan, hingga akhirnya selalu meraih prestasi terbaik di kelas.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke SMP Negeri 16 Palembang (1981–1984) dan SMA Methodist II Palembang (1984–1987). Dibesarkan dalam lingkungan yang keras, Fasha justru menumbuhkan ketahanan mental yang kuat, dibimbing oleh didikan agama dari ibunya yang tak ternilai. Sang ayah, seorang satpam di Pertamina, bekerja tanpa lelah demi menghidupi delapan anaknya, sementara ibunya tak hanya menjadi ibu rumah tangga, namun juga juru masak andal dan sosok sentral dalam pengajian, memastikan nilai-nilai agama meresap dalam keluarga.
Tekadnya untuk terus berkembang membawanya menempuh pendidikan tinggi. Ia meraih gelar D3 Teknik Sipil di Politeknik Negeri Sriwijaya (1987–1990), lalu melanjutkan ke jenjang S1 Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jambi (2002–2005). Tak berhenti di situ, Fasha meraih gelar S2 Magister Ilmu Ekonomi di Universitas Jambi (2005–2008), dan bahkan menuntaskan program S3 Doktor Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada periode 2014–2017.
Karier profesionalnya dimulai pada tahun 1991 sebagai Supervisor Engineering Konsultan IPJK di Kabupaten Kerinci. Sepanjang 1992 hingga 1997, ia promosi jabatan, mengawasi seluruh proyek IPJL di Kabupaten Tanjung Jabung. Sejak 1998, Fasha telah menjadi pemilik sejumlah perusahaan di bawah bendera “PERSADA GROUP”, yang merambah berbagai sektor strategis seperti Jasa Konstruksi, Jasa Travel, Properti, Perdagangan, Perhotelan, Perkebunan, Pertambangan, hingga Rental Alat Berat. Ia juga pernah menjabat Direktur PT. Bina Konsindo Persada dari 1998 hingga 2009.
Titik balik kariernya di dunia politik dimulai saat ia terpilih menjadi Wali Kota Jambi bersama pasangannya, Abdullah Sani, untuk periode 2013–2018. Kemenangan ini diraih berkat kepercayaan masyarakat yang memilihnya dengan perolehan 88.464 suara atau 35, 36?ri total suara sah pada 29 Juni 2013. Pelantikan mereka dilakukan pada 4 November 2013 oleh Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus.
Selama masa baktinya sebagai Wali Kota Jambi, Syarif Fasha menunjukkan dedikasi luar biasa. Ia tak pernah mengambil gajinya, melainkan menyalurkan seluruhnya untuk kegiatan sosial, khususnya bantuan biaya sekolah bagi siswa kurang mampu. Prinsipnya sederhana: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” Keputusan terjun ke politik didorong oleh keinginan kuat untuk memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat, melebihi apa yang bisa dicapai sebagai seorang pengusaha.
Reputasinya semakin kokoh saat ia kembali terpilih untuk periode kedua (2018–2023) bersama pasangannya, Maulana. Duet ini didukung oleh sepuluh partai politik dan berhasil memenangkan hati pemilih dengan 147.652 suara atau 55, 70% pada Pilwako Jambi 27 Juni 2018. Mereka dilantik pada 7 November 2018 oleh Plt. Gubernur Jambi, Fachrori Umar.
Di bawah kepemimpinannya, Kota Jambi mengalami transformasi signifikan. Berbagai inovasi lahir, termasuk gerakan bangkit berdaya, kampung bantar, program sejuta biopori, komitmen kota hijau, hingga gerakan menanam pohon. Pengembangan ruang terbuka hijau, bank sampah, dan kampung iklim turut memperkaya wajah kota. Inisiatif ini membawa Jambi meraih pengakuan internasional, seperti penghargaan 30 Deserving Cities Award 2016 di Guangzhou, Tiongkok, dan menjadi salah satu dari 30 Kota Dunia dalam ajang Best Citizen Participation dari International Observatory on Participation Democracy (IOPD) di Montreal, Kanada.
Kota Jambi di bawah Syarif Fasha dan Maulana menjelma menjadi kota 'Terkini'. Pada tahun 2021, kota ini meraup 29 penghargaan, menunjukkan ketangguhan di tengah pandemi COVID-19. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk laporan keuangan berhasil dipertahankan selama lima tahun berturut-turut sejak 2016. Tahun 2022 menjadi saksi bisu keberhasilan meraih 54 penghargaan bergengsi, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Implementasi pembangunan berkelanjutan, mitigasi, adaptasi, dan respons, serta prinsip New Public Service menjadi landasan kokoh. Dua belas proyek infrastruktur strategis pun berhasil direalisasikan, termasuk Mal Pelayanan Publik dan Rumah Sakit H. Abdurrahman Sayoeti.
Keberhasilan digitalisasi pelayanan publik turut diapresiasi dengan Digital Government Award dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada 2023. Fasha menekankan pentingnya teknologi untuk mempermudah akses masyarakat terhadap layanan.
Dedikasi Syarif Fasha tak berhenti di situ. Ia juga menerima penghargaan sebagai Wali Kota pendukung utama pengelolaan Zakat dari BAZNAS RI (2023), Kepala Daerah Pembina Kelurahan Terbaik (2022), dan Anugerah Revolusi Mental (2022). Deretan penghargaan lain seperti Karya Bhakti Pramuka (2021), Nugra Jasa Darma Pustaloka (2021), KNPI Award (2021), Karya Bhakti Peduli Satpol PP (2020), Nirwasita Tantra 'Green Leadership' (2020), Tanda Kehormatan Bintang Jasa Pratama (2019), hingga penghargaan di bidang olahraga, kependudukan, koperasi, dan UMKM, menjadi bukti nyata kontribusinya yang luas.
Kini, setelah dua periode memimpin Jambi, Syarif Fasha melangkah ke panggung yang lebih besar. Ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jambi untuk periode 2024–2029, mewakili fraksi Partai NasDem. Perjalanan dari keterbatasan masa kecil hingga kursi parlemen nasional ini adalah cerminan ketekunan, visi, dan komitmen tak tergoyahkan untuk melayani masyarakat. (PERS)

Updates.