POLITISI - DR. Hj. Hindun Anisah, M.A., lahir pada 2 Mei 1974, adalah sosok politikus Indonesia yang membawa perubahan signifikan, bukan hanya di kancah politik, tetapi juga di lingkungan pendidikan agama. Bersama suaminya, Nuruddin Amin, beliau memimpin Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari di Bangsri, Jepara, mentransformasi lembaga pendidikan Islam ini menjadi lebih modern, terbuka, dan berdaya guna bagi masyarakat.
Pesantren Hasyim Asy'ari, meski tetap berpegang pada kajian Al-Quran, fiqih, dan hadis, mengusung kurikulum yang tak biasa. Hindun Anisah dengan tegas menerapkan kurikulum berbasis kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan serta anak, mendobrak tatanan lama yang dirasanya masih memuat diskriminasi.
Pengalaman pribadi menjadi pemicu utama perubahan ini. Ia merasakan adanya hierarki kajian yang berbeda antara santri putra dan putri saat masa belajarnya di pesantren. "Jadi saya merasa dulu di pesantren, bisa dikatakan ada diskriminasi dari sisi kitab-kitab yang kita kaji. Kitab yang dikaji santri putra secara hierarki lebih tinggi dibanding santri putri, ” kata Hindun, yang kini tengah memperdalam ilmu Resolusi Konflik dan Agama di Drew University, New Jersey, Amerika Serikat.
Pertanyaan dan protes mendalam mengenai perbedaan hak dalam menerima pelajaran terus bergulir dalam benaknya hingga jenjang Aliyah. "Ketika aliyah, pindah pesantren memang tidak ada perbedaan kitab yang dikaji. Tapi dari sisi lain peluang perempuan untuk terjun menjadi pengajar, dikebiri, ” ujarnya.
Sejak kecil, ia telah diajari untuk bersikap kritis, terinspirasi dari cerita ibunya tentang para pejuang perempuan. Hal ini menumbuhkan tekad kuat dalam dirinya untuk melakukan gerakan pemberdayaan perempuan, demi melahirkan generasi perempuan hebat di masa depan.
Berbekal ijazah advokat yang diperolehnya, Hindun Anisah melancarkan aktivitasnya dalam membela hak-hak perempuan dengan langkah yang lebih terarah. Lulusan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini meyakini advokasi adalah jalan untuk memperjuangkan keadilan.
Konsistensi dan komitmennya dalam perlindungan hak perempuan membawanya pada kesempatan lain. Pada tahun 2011, Pemerintahan SBY menunjuknya sebagai anggota satgas perlindungan TKI. Di sana, Hindun turut serta menyelesaikan berbagai persoalan pelik yang dihadapi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong dan Arab Saudi, termasuk menyelamatkan para Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari ancaman hukuman mati. Ia mencontohkan penyelamatan tiga TKW dari Ungaran, Malang, dan Karawang.
Sukses dalam berbagai advokasi, Hindun kemudian menarik diri sejenak untuk fokus pada regenerasi. Ia bertekad melahirkan generasi perempuan yang kuat dan siap menghadapi kemajuan zaman. “Saya ingin melahirkan generasi perempuan yang kuat. Punya bekal kuat untuk menghadapi kemajuan zaman dan membela perempuan lainnya, ” tutur Master Antropologi Kesehatan dari Universitas Amsterdam, Belanda, ini dengan optimis.
Langkah tegasnya adalah kembali ke akar, mengelola Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari bersama suaminya. Ia meyakini pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang mampu membentuk manusia berkualitas dan memandang dunia secara moderat. Menggabungkan latar belakang ulama dan aktivis perempuan, Hindun menjadikan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan sekaligus tempat perlindungan dan pemberdayaan perempuan.
Di pesantrennya, misi kesetaraan gender terintegrasi dalam setiap syiar dan kajian. Lebih dari itu, pesantren ini dibuka sebagai shelter bagi perempuan korban kekerasan. Salah satu kisah memilukan adalah Karin, seorang siswi kelas 2 Madrasah Aliyah yang menjadi korban pemerkosaan oleh ayah tirinya atas persetujuan ibunya.
“Trauma berat dan hampir sepanjang hidupnya tidur dengan membawa pisau, ” tutur Hindun menceritakan kondisi Karin yang beruntung diselamatkan kerabat dan dititipkan di pesantrennya. Kini, Karin yang membutuhkan waktu dua tahun untuk melewati masa traumanya, perlahan bangkit dengan semangat baru, terinspirasi dari sosok Hindun. “Saya pingin seperti Bunda. Pingin punya masa depan. Besok saya mau jadi lawyer!, ” ungkap Karin suatu sore.
Langkah Hindun Anisah memasuki panggung politik didorong oleh keinginan mendobrak tradisi yang seringkali memandang perempuan kurang berkontribusi bagi masyarakat dan negara. Selain itu, ia ingin memperluas jangkauannya dalam advokasi dan membantu perempuan korban ketidakadilan, meski harus membagi waktu antara tugas pesantren dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Saat ini, Hindun Anisah menjabat sebagai staf khusus Menteri Ketenagakerjaan RI. Namun, ia tak pernah melewatkan jadwal mengajar di pesantren. Baginya, menjadi pengasuh pesantren bukan sekadar mengajar, tetapi juga mendidik dan membangun komunikasi yang erat dengan para santri. Di Kementerian Ketenagakerjaan, komitmennya untuk memberi ruang bagi perempuan dan pekerja disabilitas semakin diperkuat. (PERS)

Updates.