JAKARTA - Pandangan tajam mengenai lanskap geopolitik global yang penuh gejolak dibagikan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sebuah kesempatan yang sangat dinantikan, Bapak SBY hadir di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) untuk memberikan kuliah umum kepada para peserta Pendidikan dan Penyiapan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXIX dan Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVII. Acara yang digelar di Ruang Dwi Warna pada Senin (23/2/2026) ini turut dihadiri oleh jajaran tenaga pengajar, pengkaji, profesor, serta pejabat umum di lingkungan Lemhannas RI.
Kedatangan mantan Presiden yang akrab disapa SBY disambut hangat oleh Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily. Beliau menyambut SBY dengan penuh apresiasi, menyatakan, “Kehadiran Bapak Susilo Bambang Yudhoyono merupakan momentum yang sangat tepat dan strategis, karena beliau seorang yang negarawan.”
Para peserta P4N LXIX dan P3N XXVII telah lama menantikan kehadiran SBY. Pengetahuan beliau yang mendalam mengenai geopolitik, ditambah pengalaman memimpin Indonesia selama dua periode, menjadi daya tarik utama. Diskusi mengenai perspektif geopolitik global diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta, memberikan pemahaman yang lebih mendalam, serta membekali mereka dalam menghadapi dinamika situasi global yang kompleks dan berdampak luas, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga negara-negara lain.
“Alhamdulillah, saya datang kembali ke institusi yang memiliki sejarah dalam nation building, pembangunan nasional dari masa ke masa, ” ujar SBY, mengenang kiprahnya dan peran Lemhannas RI. Beliau memandang Lemhannas RI sebagai lembaga krusial dalam membentuk berbagai aspek fundamental kenegaraan, mulai dari statecraft, perumusan kebijakan, manajemen pembangunan, hingga penempaan kepemimpinan tingkat senior.
SBY menekankan bahwa Lemhannas RI berperan penting dalam menyiapkan para calon pemimpin yang kelak akan mengisi posisi strategis di pemerintahan. Ia berharap para alumni Lemhannas RI dapat mengemban amanah negara dengan baik, mengelola isu-isu penting seperti hak asasi manusia dan tata kelola pemerintahan, serta menghadapi tantangan dinamika global secara mahir demi kemajuan Indonesia.
Dalam kuliah umumnya, SBY mengupas tuntas materi berjudul “Great Power Rivalry In The Age Of Global Disorder”. Ia mengamati kecenderungan negara-negara besar untuk bertindak secara unilateral, mengabaikan pendekatan multilateral yang semakin kehilangan arah. Ketidakpastian dan sulitnya prediksi dalam tatanan global saat ini, termasuk ketegangan internasional di berbagai kawasan, diakui SBY sebagai keniscayaan yang dipicu oleh kebijakan ekstrem dan ultranasionalisme.
Menyikapi situasi tersebut, SBY menegaskan pentingnya Indonesia untuk tetap berada dalam kerangka ASEAN. Ia melihat ASEAN telah berkembang menjadi ASEAN Community Security dan harus menjadi lebih kuat dari sebelumnya. “Kita harapkan (adanya) encouragement kepada pemimpin-pemimpin ASEAN. Gunakan kesempatan sejarah. ASEAN menjadi salah satu solusi (dan) bagian dari solusi, ” serunya.
Lebih lanjut, SBY berpesan agar negara-negara ASEAN mampu menyelesaikan permasalahan internal tanpa intervensi pihak luar. Beliau menekankan vitalnya menjaga harga diri dan menunjukkan bahwa ASEAN memiliki kapasitas untuk menjaga stabilitas, kedamaian, serta kemajuannya. SBY menutup dengan harapan terbaik untuk masa depan Indonesia, yang ia yakini berada di tangan generasi muda yang kini menempuh pendidikan di Lemhannas RI. (PERS)

Ibrahim