ISTANBUL - Ketegangan geopolitik kian memanas di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Israel kini berada di titik perbedaan pandangan yang signifikan terkait strategi mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Iran. Laporan dari KAN, lembaga penyiaran publik Israel, pada Kamis (26/3/2026) mengungkap adanya perselisihan mendasar yang berpusat pada tiga pilar utama: masa depan program rudal balistik Iran, nasib uranium yang telah diperkaya yang akan diserahkan ke Badan Energi Atom Internasional, serta pelonggaran sanksi ekonomi yang membelit Iran.
Situasi ini mencuat setelah beredar kabar pada Rabu (25/03/2026) bahwa Amerika Serikat telah menyampaikan proposal 15 poin yang dirancang untuk mengakhiri permusuhan. Usulan tersebut diduga telah disalurkan ke Iran melalui perantaraan Pakistan. Lebih jauh lagi, AS dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi gencatan senjata sementara selama satu bulan, sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat membuka pintu bagi perundingan damai.
Menanggapi perkembangan ini, seorang pejabat Iran yang memilih untuk tidak disebutkan namanya, seperti dikutip oleh kantor berita semi-resmi Tasnim pada Kamis, menyatakan bahwa Teheran telah secara resmi menyampaikan tanggapan mereka terhadap usulan AS. Tanggapan tersebut disampaikan pula melalui jalur mediator.
Pejabat tersebut merinci bahwa respons Iran mencakup serangkaian tuntutan krusial, termasuk penghentian total serangan dan segala bentuk kekerasan di seluruh lini pertempuran, jaminan teguh agar tidak ada lagi perang di masa mendatang, serta permintaan kompensasi. Tak hanya itu, Iran juga menuntut pengakuan atas kedaulatannya atas Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran strategis yang vital bagi perdagangan global.
Sementara itu, KAN, yang mengutip sumber-sumber politik di Israel, melaporkan bahwa dialog antara AS dan Israel masih berlangsung intensif. Ada kemungkinan besar bahwa usulan yang diajukan oleh Amerika Serikat akan mengalami modifikasi sebelum mencapai kesepakatan akhir.
Sumber di Israel mengungkapkan kekhawatiran mendalam, menyatakan bahwa Iran kini "sudah menggunakan bahasa perang tahap akhir." Kekhawatiran ini semakin menguat mengingat Iran terus melayangkan tuntutan-tuntutan signifikan dalam setiap kontak yang dilakukan. Sumber tersebut menambahkan, ada pula kekhawatiran di kalangan petinggi Israel bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin akan terdorong untuk menyetujui gencatan senjata sementara demi membuka peluang negosiasi langsung dengan Iran.
Meskipun laporan mengenai upaya mediasi oleh Pakistan semakin santer terdengar, belum ada kepastian mengenai jadwal pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran.
Sejak 28 Februari, lanskap keamanan regional telah diguncang oleh rentetan serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Serangan-serangan ini dilaporkan telah merenggut lebih dari 1.340 nyawa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Balasan dari Iran pun tidak kalah sengit, dengan melancarkan serangan drone dan rudal yang ditujukan ke Israel serta wilayah-wilayah yang menjadi basis aset militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. (PERS)

Updates.