JAKARTA - Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan global yang kompleks, dan dampaknya pasti akan terasa dalam perjalanan bangsa ini. Hal ini diungkapkan langsung oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., dalam sebuah pembekalan P4N Angkatan LXIX.
“Apa yang terjadi dengan Indonesia pasti akan dipengaruhi oleh berbagai tantangan yang dihadapi, ” kata Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., Selasa (13/1/2026).
Dalam sesi Pembekalan Awal Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXIX Lemhannas RI, Gubernur Ace Hasan Syadzily menyoroti krusialnya pemahaman mendalam tentang geopolitik bagi para pemimpin nasional. Tujuannya jelas: untuk membangun fondasi ketahanan nasional yang kokoh dan mampu bertahan dari segala guncangan.
Beliau memaparkan bagaimana lanskap geopolitik global saat ini terus berubah dengan cepat, memicu berbagai konflik di berbagai penjuru dunia. Persaingan antarnegara bahkan telah merambah ke ranah perang dagang melalui kebijakan ekonomi dan teknologi yang ketat. Tak hanya itu, ancaman perubahan iklim turut menambah daftar tantangan, menyebabkan bencana alam yang semakin sering terjadi. Semua dinamika ini, tak bisa dipungkiri, sangat memengaruhi kondisi dinamis bangsa Indonesia.
Menyikapi realitas ini, Indonesia membutuhkan ketahanan nasional yang kuat dan pemimpin yang tidak hanya cakap dalam menganalisis situasi, menyusun rencana strategis, tetapi juga piawai dalam mengambil keputusan yang tepat sasaran.
“Ketahanan nasional itu adalah keuletan dan ketangguhan kita yang tergantung pada diri sendiri, mampu atau tidak sebagai sebuah bangsa untuk mengembangkan diri dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan, ” ucap Gubernur Lemhannas RI.
Di lingkungan Lemhannas RI, konsep ketahanan nasional ini dijabarkan melalui kerangka Asta Gatra, yang mencakup delapan unsur strategis: geografi, demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, serta pertahanan dan keamanan. Pembahasan mendalam mengenai kedelapan gatra ini akan selalu berakar pada Empat Konsensus Dasar Bangsa yang menjadi pilar utama identitas kita: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dengan semangat tersebut, para peserta P4N Angkatan LXIX Lemhannas RI diharapkan tumbuh menjadi pemimpin yang berpikir strategis. Kelak, setelah menyelesaikan pendidikan, para peserta diharapkan memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke depan, mampu meramalkan dan mendefinisikan masa depan, menganalisis kondisi terkini secara akurat, serta merancang dan mengeksekusi langkah-langkah strategis demi meraih cita-cita bangsa.
|
Baca juga:
Indonesia Harusnya Jadi Poros Maritim Dunia
|
“Sebagai pemimpin ke depan, harus memiliki ‘vision of what I want’. Konstruksi berpikir yang dibangun adalah harus memiliki optimisme sebagai sebuah bangsa, harus mampu menghadap ke depan dan kita bisa mewujudkan masa depan itu, ” kata Gubernur Lemhannas RI.
Lebih lanjut, Gubernur Ace Hasan Syadzily menekankan betapa pentingnya sinergi dan kolaborasi antarberbagai unsur. Beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun individu yang dapat bekerja sendirian tanpa bersinergi dengan pihak lain.
“Pemimpin nasional bukanlah superman, tetapi harus mampu membangun kolaborasi dan adaptif terhadap lingkungan strategis untuk ketahanan nasional, ” pungkas Gubernur Lemhannas RI mengakhiri pembekalannya.
Pendidikan P4N Angkatan LXIX Lemhannas RI, yang telah dibuka pada 13 Januari 2026, akan berlangsung selama 5, 5 bulan dan dijadwalkan berakhir pada 14 Juli 2026. Program ini diikuti oleh 110 peserta, terdiri dari 48 personel TNI, 28 personel Polri, 21 Aparatur Sipil Negara (ASN), 7 peserta Non-ASN, serta 6 peserta dari negara sahabat, menunjukkan cakupan dan relevansi global dari program ini. (PERS)

Ibrahim