JAKARTA - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) memikul tanggung jawab krusial dalam upaya peningkatan literasi di tanah air. Menurut Prof. E. Aminudin Aziz, MA., Ph.D., Kepala Perpusnas RI, tantangan literasi yang dihadapi Indonesia masih cukup serius, bahkan menempatkan negara ini di jajaran tiga terbawah dalam hal kemampuan literasi dan numerasi berdasarkan data International Student Assessment (ISA). Ia mengungkapkan keprihatinan ini saat membuka materi pengenalan posisi, misi, dan aksi perpustakaan nasional bagi peserta P3N Angkatan XXVII Lemhannas RI di Lemhannas RI pada Senin (2/3/2026).
“Perpustakaan nasional ini bertanggung jawab untuk mengampu masalah terkait literasi, ” kata Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) Prof. E. Aminudin Aziz, MA., Ph.D. saat membuka materi terkait pengenalan posisi, misi, dan aksi perpustakaan nasional pada peserta P3N Angkatan XXVII Lemhannas RI di Lemhannas RI pada Senin (2/3).
Prof. Aminudin Aziz memaparkan bahwa akar permasalahan pembangunan literasi di Indonesia sangat kompleks. Ia merinci adanya komplikasi dalam pemahaman konsep literasi itu sendiri, minimnya ketersediaan sumber bacaan yang memadai, serta kurangnya fasilitas pendukung yang memadai. Selain itu, program dan kegiatan literasi yang ada seringkali dirasa kurang relevan, kompetensi para pelaksana masih perlu ditingkatkan, dan yang tak kalah penting, dukungan serta partisipasi dari berbagai pemangku kepentingan masih rendah.
Lebih lanjut, Prof. Aminudin Aziz menekankan bahwa rendahnya tingkat literasi di Indonesia bukanlah masalah yang bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan sebuah tanggung jawab bersama dari seluruh ekosistem. Ia mengajak semua pihak untuk melakukan introspeksi mendalam guna mengoptimalkan kualitas hasil belajar di setiap jenjang pendidikan.
“Ini adalah bahan untuk introspeksi kita semua, kita tidak perlu menyalahkan anak kita semata, tapi salahkan ekosistemnya, kita semua bagian dari ekosistem itu, ” kata Aminudin Aziz.
Perpusnas RI, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, memiliki berbagai fungsi strategis, termasuk sebagai perpustakaan pembina, rujukan, penelitian, deposit, pusat jejaring, dan pelestarian. Dalam menjalankan fungsinya sebagai wahana penyampaian informasi yang menunjang pengembangan ilmu dan kreativitas, Perpusnas RI telah menetapkan tiga program prioritas utama. Pertama, pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi, sebagai respons langsung terhadap minimnya kemampuan literasi di Indonesia. Kedua, pengarusutamaan naskah nusantara untuk menjaga kelestarian warisan intelektual bangsa. Ketiga, standardisasi dan akreditasi, mengingat masih banyak perpustakaan di Indonesia yang belum memenuhi standar yang ditetapkan.
Untuk mewujudkan peningkatan kecakapan literasi, Perpusnas RI telah menginisiasi berbagai program nyata. Di antaranya adalah KKN Tematik Literasi yang menggandeng mahasiswa, penyediaan bantuan bahan bacaan bermutu, pemberdayaan relawan literasi masyarakat (Relima), serta upaya pelestarian naskah kuno nusantara yang kaya nilai sejarah.
Di akhir paparannya, Prof. Aminudin Aziz juga menyoroti pentingnya koleksi digital yang terus dikembangkan, berbagai fasilitas modern, serta layanan prima yang tersedia di Perpusnas RI. Ia juga memperkenalkan koleksi fisik pilihan yang menjadi kebanggaan perpustakaan nasional. (PERS)

Ibrahim