POLITISI - Perjalanan hidup Obon Tabroni, seorang pria kelahiran 27 Oktober 1972 di Pebayuran, Kabupaten Bekasi, adalah cerminan nyata perjuangan kaum buruh Indonesia yang merangkak naik dari akar rumput menuju panggung politik nasional. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas 3 Karawang, Obon memulai kariernya sebagai operator mesin di PT Matsushita Kotobuki Indonesia. Di sinilah, di tengah deru mesin pabrik, benih-benih aktivisme buruh mulai tumbuh dalam dirinya, membawanya bergabung dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Semangat Obon dalam memperjuangkan hak-hak buruh tak pernah padam. Ia tercatat pernah memimpin aksi mogok kerja pada 27 Januari 2012, saat menjabat sebagai Ketua Buruh Bekasi Bergerak. Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh ketidaksepakatan Asosiasi Pengusaha Indonesia untuk mencabut gugatan terkait aturan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bekasi, yang berujung pada penundaan pembayaran UMK 2012. Tak berhenti di situ, Obon juga menjadi salah satu koordinator demonstrasi besar pada Hari Buruh 2017. Tuntutan saat itu jelas: penghapusan program pemagangan nasional dan pencabutan Peraturan Pemerintah nomor 78 tahun 2015, yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan buruh.
Di internal FSPMI, Obon telah mengukir jejak panjang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Serikat Pekerja Aneka Industri dan Ketua Cabang FSPMI di Bekasi. Puncak kariernya di serikat pekerja adalah ketika ia dipercaya menjadi wakil ketua pada periode 2016-2021. Selain aktif di FSPMI, Obon juga merupakan salah satu pendiri lembaga pengawas Jaminan Kesehatan Nasional, Jamkes Watch, menunjukkan kepeduliannya pada akses kesehatan bagi masyarakat.
Obon Tabroni adalah pionir di balik gerakan "Buruh Go Politic". Ia begitu yakin bahwa kaum buruh memiliki hak dan kapasitas untuk terjun ke dunia politik, baik sebagai anggota dewan maupun kepala daerah. Baginya, buruh harus hadir dan mewakili suara mereka sendiri di lembaga legislatif. Langkah awal Obon mewujudkan visi ini adalah dengan mendukung pencalonan anggota FSPMI untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi pada tahun 2014.
Ambisi Obon untuk mewujudkan representasi buruh di pemerintahan tak hanya sebatas mendukung orang lain. Ia sendiri berani melangkah maju dengan mencalonkan diri sebagai Bupati Bekasi pada Pemilihan Umum Bupati Bekasi 2017. Maju sebagai calon independen, Obon berhasil mengumpulkan 143.122 suara dukungan dari berbagai kalangan. Keputusannya untuk maju tanpa dukungan partai politik dilandasi keinginan kuat untuk menghindari konflik kepentingan. Dalam kontestasi ini, ia menggandeng Bambang Sumaryono, seorang manajer perusahaan, sebagai wakilnya.
Meskipun pasangan Obon-Bambang mampu meraih 208.223 suara atau 17, 58?ri total suara, mereka belum berhasil menduduki kursi Bupati dan Wakil Bupati Bekasi. Pasangan Neneng Hasanah Yasin dan Eka Supria Atmaja akhirnya keluar sebagai pemenang. Namun, kegagalan ini tidak memadamkan semangat Obon.
Pada Pemilihan Umum Legislatif 2019, Obon Tabroni kembali mengukir sejarah. Mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat VII melalui Partai Gerindra, ia berhasil terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dengan perolehan 134.880 suara. Di Senayan, ia menempati posisi strategis di Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan.
Perjalanan Obon di ranah politik terus berlanjut. Ketika Partai Buruh dideklarasikan dan FSPMI mendorongnya untuk bergabung, Obon mengambil keputusan yang berbeda. Penolakannya untuk bergabung dengan partai tersebut berujung pada keluarnya ia dari kepengurusan FSPMI pada tahun 2023. Obon tetap setia pada Partai Gerindra, dan kembali membuktikan kiprahnya dengan terpilih kembali sebagai anggota DPR RI dalam Pemilihan Umum 2024, melanjutkan amanah untuk periode 2024-2029. (PERS)

Updates.