POLITISI - Lahir di Tasikmalaya pada 5 Oktober 1965, Mohamad Sohibul Iman menorehkan perjalanan hidup yang mengagumkan. Dari latar belakang keluarga sederhana, ia tumbuh menjadi sosok yang disegani dalam kancah politik Indonesia. Ayahnya, Djojo Sutedjo, dan ibunya, Iloh Halimah, menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter Sohibul. Kehidupan masa kecilnya diwarnai oleh kehadiran saudara-saudaranya, Oded Mohamad Danial yang kelak menjadi Wali Kota Bandung, dan Dede Muhamad Muharam yang aktif di legislatif Kota Tasikmalaya, menunjukkan jejak kepemimpinan yang mengalir dalam keluarga.
Perjalanan akademis Sohibul Iman adalah bukti ketekunan dan kecerdasan. Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah di almamaternya di Tasikmalaya, ia mengawali langkah di Institut Pertanian Bogor. Namun, takdir membawanya merantau ke Jepang berkat beasiswa prestisius dari BAKOSURTANAL. Di Negeri Sakura, ia menorehkan prestasi gemilang, meraih gelar Sarjana Teknik dari Universitas Waseda pada 1992, dilanjutkan Magister Teknik dari Takushoku University pada 1994, dan puncaknya, gelar PhD dari Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) pada 2004. Pengalaman internasional ini membentuk perspektifnya yang luas.
Sekembalinya ke tanah air, Sohibul Iman langsung berkarier sebagai peneliti di BAKOSURTANAL, sesuai amanah beasiswa. Tak hanya itu, ia juga didapuk sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta aktif berbagi ilmu sebagai pengajar di berbagai perguruan tinggi. Semangatnya untuk berkontribusi di bidang sains dan teknologi terbukti ketika ia dipercaya memegang amanah Ketua DPP PKS Bidang Ekuintek (Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Teknologi) sejak 2005, sebuah posisi strategis yang diembannya hingga tahun 2010.
Keterlibatannya dalam organisasi ilmiah dan teknologi seperti ISTECS, YPNF, HSF, MITI, dan YIT menunjukkan ketertarikannya pada kemajuan bangsa. Ia juga pernah menjadi bagian dari tim Sosialisasi Nasional Empat Pilar di Majelis Permusyawaratan Rakyat, sebuah peran penting dalam menjaga keutuhan ideologi bangsa.
Karier politiknya menanjak tajam. Pada tahun 2009, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Prestasinya terus bersinar, menjadikannya Wakil Ketua DPR RI periode 2013-2014, sebuah posisi prestisius yang ia raih setelah menggantikan Anis Matta. Pengalamannya di parlemen ini menjadi bekal berharga dalam memimpin partai.
Puncak karier politiknya terjadi ketika ia didaulat menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera dari 10 Agustus 2015 hingga 5 Oktober 2020. Di bawah kepemimpinannya, PKS terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat Indonesia. Meski sempat mengundurkan diri dari keanggotaan dewan pada tahun 2017, warisan pemikirannya di parlemen tetap membekas.
Ada momen penting dalam perjalanan kariernya yang patut dicatat. Di tahun 1998, saat bergabung dengan Partai Keadilan, ia sempat dihadapkan pada pilihan sulit karena aturan PNS yang melarang keterlibatan politik. Ia memilih untuk fokus pada karier peneliti sambil melanjutkan studi S3 di Jepang. Keputusan ini menunjukkan dedikasinya yang luar biasa pada pengembangan diri dan pengabdian.
Pada tahun 2006, sebuah tantangan baru muncul ketika ia dipercaya menjadi penjabat rektor Universitas Paramadina, sebuah amanah yang ia terima dengan penuh semangat setelah sebelumnya sempat menolak tawaran pertama. Keputusan ini mengharuskannya meninggalkan status PNS demi fokus mengabdi di dunia pendidikan. Keputusannya disambut baik oleh rekan-rekannya di PKS, yang kemudian kembali mengajaknya untuk berkontribusi lebih dalam di partai.
Perjalanan Mohamad Sohibul Iman adalah cerminan dari sosok pemimpin yang cerdas, berdedikasi, dan memiliki visi jauh ke depan. Dari laboratorium penelitian hingga mimbar politik, ia terus menginspirasi dengan rekam jejaknya yang gemilang. (PERS)

Updates.