JAKARTA – Wacana kembalinya pembelajaran tatap muka ke sistem daring pada April 2026 menuai penolakan keras dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti. Ia menegaskan bahwa kebijakan efisiensi atau penghematan energi yang diusulkan pemerintah tidak sepatutnya mengorbankan masa depan pendidikan anak bangsa.
Pengalaman pahit selama pandemi COVID-19, di mana pembelajaran daring menjadi satu-satunya pilihan, menjadi pelajaran berharga bagi Esti. Menurutnya, strategi pembelajaran jarak jauh terbukti kurang efektif dan meninggalkan segudang persoalan serius di dunia pendidikan.
"Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita, " ujar Esti dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin (23/06/2026).
Ia merinci berbagai dampak negatif yang dirasakan siswa, mulai dari kesulitan menyerap materi pelajaran, menurunnya kedisiplinan, terhambatnya pembentukan karakter, hingga kendala teknologi yang kerap dihadapi banyak keluarga.
"Hal-hal tersebut adalah problem yang tidak sederhana, " tegas legislator yang membidangi urusan pendidikan ini.
Salah satu dampak paling mengkhawatirkan yang diungkap Esti adalah fenomena learning loss, di mana siswa cenderung kehilangan semangat belajar dan mulai melupakan pentingnya sekolah.
Penurunan kemampuan kognitif siswa pasca-pembelajaran daring terlihat jelas dari berbagai hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia.
Tak hanya tertinggal dalam capaian akademis, sistem pembelajaran jarak jauh juga dinilai Esti memberikan pukulan telak pada aspek psikologis dan kesehatan fisik anak.
"Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter, " tuturnya.
Oleh karena itu, Esti mendesak pemerintah untuk segera mencari alternatif solusi lain yang lebih bijak dalam mengantisipasi dampak kondisi global, alih-alih menerapkan kebijakan yang berpotensi merugikan generasi muda.
Ia menekankan, pendidikan anak-anak adalah aset berharga yang tidak boleh dikompromikan, mengingat dampaknya yang bisa berkepanjangan hingga masa depan.
"Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia, " pungkasnya. (PERS)

Updates.